Mutiara Pagi: Ziarah Negeri (Bagian 1953)

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 4 September 2025 | 07:03 WIB
Polwan Polres Tulang Bawang  Ziarah dan Tabur Bunga (Humas Polres Tulang Bawang )
Polwan Polres Tulang Bawang Ziarah dan Tabur Bunga (Humas Polres Tulang Bawang )

Para bijak pernah berpetuah:
“Cinta sejati bukan mencari yang sempurna,
melainkan merangkul retakan,
sebagai mozaik yang membentuk keindahan.”

Marilah kita ziarahi negeri tercinta,
lewat jejak para pemimpin kita,
dengan cinta yang tak menutup mata,
namun jangan sampai kehilangan makna

Pertama:
Ia adalah api yang menyalakan obor kemerdekaan,
orator yang meniupkan nyali ke dada bangsa
Namun api itu juga membakar,
dan dalam kobaran karisma,
rakyat pun terbuai dalam bayangan besar,
dari putra sang fajar

Kedua:
Ia bagaikan sawah yang hijau,
menyuburkan negeri dengan cahaya berkilau,
menyediakan nasi di piring rakyat,
namun hijau pun berubah pekat,
ketika tangan besi menutup suara,
seolah negeri ini hanya milik segelintir kuasa

Ketiga:
Ia seperti burung bersayap teknologi,
membawa bangsa menatap lazuardi,
dengan kebebasan pers dan demokrasi
Namun sayap itu terlalu rapuh,
oleh badai politik yang begitu tangguh,
hingga terbangnya begitu singkat,
meninggalkan gema hanya sesaat

Keempat:
Ia seperti mata air yang jernih,
menyembuhkan luka akibat selisih
Perbedaan asal dan keturunan siapa
semuanya diberi hak yang sama
Tapi kejernihan itu juga berubah
oleh ketidakteraturan sejumlah langkah,
hingga banyak yang tak sabar,
menunggu arah ke jalan yang benar

Kelima:
Ia adalah bunga,
yang tumbuh dari akar sejarah,
kecintaannya kepada bangsa
menjadi penghubung warisan sang ayah
Namun sering dipandang kaku,
karena diamnya seperti membeku,
dianggap tak mendengar,
oleh mereka yang kurang sabar

Keenam:
Ia seperti senja yang indah,
dengan kata yang menyejukkan dada
Namun sering dipandang bimbang,
karena terlalu lama menimbang,
hingga bangsa menunggu dalam gamang

Ketuju:
Ia cermin tukang kayu sederhana,
hendak membangun rumah mewah
Namun dipandang salah ukur,
akibat langkah yang kurang terukur
Dan dalam kesederhanaan itu,
jalan terasa sempit dan buntu,
karena janji-janji yang diucapkan
masih banyak yang belum ditunaikan

Kedelapan:
Ia adalah seorang prajurit,
yang lama menanggung rasa sakit,
kini dipercaya memegang kunci istana,
dengan keberanian yang ada di pundaknya
Namun bayangan masa lalu masih menyelimuti,
seakan-akan berat untuk menyuruh pergi
sehingga rakyat bertanya-tanya:
mungkinkah bayang-bayang itu bisa sirna?

Marilah sama-sama menyadari,
bahwa cinta sejati pada negeri ini,
bukan mencari pemimpin yang sempurna,
melainkan merangkul tiap jejak mereka,
sebagai pelajaran, sebagai cermin,
sehingga membuat kita yakin:
bahwa ketidaksempurnaan mereka
yang membentuk kesempurnaan bangsa

Malang, 4 September 2025
Salam sehat,

M. Sinal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Kembali pada Diri (Bagian 2274)

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB

Mutiara Pagi: Prasangka (Bagian 2256)

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:37 WIB
X