Oleh: dr. Dambariza H.R.
Ada nasehat atau kata-kata Gus Mus yang sangat lembut tapi menusuk. Meminjam istilah dalam bahasa medis, Gus Mus “menjahit kebijaksanaan” dengan sederhana: "Dengan menghargai orang lain, kita tidak kehilangan apa-apa. Dengan merendahkan orang lain, justru kita akan kehilangan harga diri." Kalimat tersebut, seperti infus yang jatuh perlahan di tubuh pasien, mengandung makna mendalam tentang manfaatnya bagi tubuh mengganti cairan tubuh yang hilang.
Ternyata kehormatan diri bukanlah sesuatu yang kita bangun dengan menara keangkuhan. Bukan pula sesuatu yang kita tanam di tanah kesombongan. Ia seperti tangan lembut dan halus melayani pasien dengan kasih sayang. Semakin kita melayaninya dengan penghormatan kepada sesama, semakin harum kepribadian kita tercium oleh dunia. Namun, tatkala kita menebar angin ogah-ogahan, jangan terkejut bila badai kehinaan atau cemooh kembali menerpa.
Gus Mus telah mengajarkan bahwa menghargai orang lain tak ubahnya layanan medis kepada pasien. Bukan semata-mata uang, melainkan sebuah investasi kemanusiaan. Laksana sinar matahari yang membagi cahayanya kepada segala yang ada. Layanan dan penhormatan kepada sesama tidak mengurangi terang kita. Sebaliknya, ia memantulkan cahaya itu kembali kepada kita dalam bentuk kehangatan, kepercayaan, dan kehormatan yang lebih besar.
Sebaliknya, merendahkan atau melayani orang lain dengan semena-mena adalah sebuah ironi pahit. Ia seperti tangan yang menggenggam jarum, semakin erat kita menggenggamnya, semakin banyak darah yang keluar dari tangan kita. Merendahkan orang lain bukanlah tanda kekuatan, melainkan cermin kelemahan. Orang yang merasa perlu harus dihormati orang lain untuk meninggikan dirinya sendiri atau menghargai dirinya sendiri adalah mereka yang sesungguhnya tidak memiliki pondasi yang kuat dalam kehidupannya.
Dalam mozaik kehidupan yang luas, kita adalah serpihan-serpihan kecil yang membentuk keindahan bersama. Saling menghargai adalah perekat yang menyatukan. Sedangkan merendahkan adalah “pisau bedah” yang mengoyak. Ternyata hidup bukanlah tentang siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan tentang bagaimana kita bisa berdiri sejajar dalam keberagaman, saling menopang, dan saling menguatkan. Layaknya hubungan pasien dengan dokter, yang menginginkan kesembuhan.
Sebenarnya ketika kita menghargai orang lain, kita sedang membangun jembatan menuju hati mereka. Kita sedang menanam benih yang kelak akan berbuah menjadi hubungan yang lebih baik, lebih hangat, dan lebih bermakna. Namun, ketika kita merendahkan mereka, kita sedang menggali jurang yang semakin dalam. Memisahkan diri dari keindahan dunia yang seharusnya bisa kita nikmati bersama.
Gus Mus mengajak kita untuk tidak terjebak dalam ilusi kehebatan semu yang didapat dengan menjatuhkan atau meremehkan orang lain. Sebab, kehormatan sejati tidak bisa dibangun di atas puing-puing harga diri orang lain. Ia harus tumbuh dari dalam diri sendiri, dari kebijaksanaan, ketulusan, dan penghargaan dan pelayanaan terhadap sesama.
Maka, marilah kita menjadi pribadi yang lebih bijak dalam berinteraksi dengan dunia. Mari kita menjadikan penghargaan sebagai bahasa universal yang kita gunakan dalam setiap pertemuan. Sebab, dalam dunia yang sering kali penuh dengan hiruk-pikuk kebencian dan persaingan, sebuah penghormatan kecil bisa menjadi oase di tengah gurun keangkuhan.
Seperti matahari yang tetap bersinar tanpa kehilangan cahayanya, demikian pula kita. Menghargai sesama tidak akan mengurangi apa pun dalam diri kita, justru akan memperkaya jiwa kita dengan kebaikan. Dan pada akhirnya, kebaikanlah yang akan menjadi jejak abadi yang kita tinggalkan di dunia ini. Jadi, santai saja. Tapi istiqomah usaha dan berdoa.
*Penulis adalah dokter umum di beberapa Klinik di Jakarta Barat. Alumni FK UGM.
Artikel Terkait
Diplomasi Seorang Raja
Mutiara Pagi: Kebajikan (Bagian 1779)
Retret ala Prabowo: Perspektif Teori Jarum Suntik
Gotong Royong sebagai Jembatan Pemecah Sekat Keterpisahan di Masyarakat
Strategi GP Ansor Karangtengah Cianjur: Menyatukan Ideologi Kuat, Intelektual Hebat, dan Ekonomi Sehat
Prof. Mahmud Zaki VS Wajah Akademisi Masa Kini
Ketika Mesin Mulai Cerdas Berpikir, Pertanyaan Filosofis Mulai Bermunculan
Kolaborasi Patriot Desa Sukabumi Gelar Jumat Menanam, Upaya Meningkatkan Ketahanan Lingkungan dan Mitigasi Bencana
Mutiara Pagi: Hakikat Waktu (Bagian 1780)
Harapan Cianjur Selatan Bergerak (CSB) untuk Bupati dan Wabup Cianjur Baru: Fokus pada Percepatan Pembangunan