"Apakah ada yang mau membeli keringatnya? "
"Tentu tidak." Ujar guru lagi.
"Orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. Biarlah kami, para guru, menjadi keringat itu, dan kalianlah yang menjadi berliannya."
Sang murid menangis, ia memeluk gurunya dan berkata : "Wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya kalian, terima kasih guru. Kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kemajuan kami, setiap kilau berlian kami, ada tetes keringatmu..."
Guru berkata : "Biarlah keringat itu menguap, mengangkasa menuju alam hakiki disisi ilahi rabbi, karena hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak-pernik di dunia ini."
Untuk semua guruku, termasuk guru ngajiku. Terima kasih atas segenap perjuanganmu yang telah mendidikku.***
Sumber : Belajar Positif
Artikel Terkait
Jangan Iri Melihat Rizki Orang Lain
Tata Aturan Pemilu Indonesia Seperti Ramalan Cuaca Yang Sulit Diduga (Bag 1)
Tata Aturan Pemilu Indonesia Seperti Ramalan Cuaca Yang Sulit Diduga (Bag 2
Mengenal Gejala Kanker Paru
Ciri - Ciri Mental Miskin
10 Gejala Gula Darah Yang Wajib Diwaspadai
Deni Koswara Melalui Parlemen Siap Membangun Perekonomian Masyarakat Berbasis Aspirasi
Kompetisi Sepakbola Se-Desa Pagelaran Cianjur Tahun 2023 Resmi Dibuka
Catatan Hingar Bingar Menjelang Pemilu 2024 Dari Kampung Kami
Maksimalisasi Pemanfaatkan Medos Sebagai Sarana Informasi, Komunikasi, Publikasi Yang Efektif, Efisien (Bag 1)