Ketika KH. Abdul Wahhab Chasbullah Bertemu Langsung dengan Raja Abdul Aziz Al-Saud (Dzulhijjah 1346–1446 H)
Oleh A. Ginanjar Sya’ban
Tepat pada bulan ini, seratus tahun silam (Dzulhijjah 1346 Hijriah), sebuah peristiwa krusial dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU) terjadi di kota suci Makkah. Pada hari Selasa, 02 Dzulhijjah 1346 Hijriah, dua ulama yang bertindak sebagai duta khusus utusan “Komite Hijaz” tiba dan memasuki kota suci Makkah. Mereka adalah K.H. Abdul Wahhab Chasbullah dan Syekh Ahmad Ghanayim al-Amir al-Mishri al-Azhari.
Sejarah awal perkembangan NU tidak dapat dipisahkan dari “Komite Hijaz”, sebuah panitia kecil yang dibentuk untuk berlayar ke Hijaz dengan tujuan bertemu Raja Abdul Aziz al-Saud (sebagai penguasa baru Hijaz). Misi utama mereka adalah menyampaikan amanat dan perjuangan umat Muslim Nusantara untuk melestarikan ajaran Ahlussunah wal Jamaah.
Dokumen dan arsip kesejarahan NU mengindikasikan bahwa “Komite Hijaz” dibentuk bersamaan dengan berdirinya NU di Surabaya, pada 16 Rajab 1344 Hijriah (31 Januari 1926). Semula, komite ini menunjuk K.H. R. Asnawi Kudus dan K.H. Abdul Wahhab Chasbullah sebagai delegasi untuk berangkat ke Hijaz pada tahun 1344 H (1926), namun keberangkatan tersebut batal. Misi ini baru terlaksana dua tahun kemudian, yaitu pada 1346 H (1928), dengan K.H. Abdul Wahhab Chasbullah dan Syekh Ahmad Ghanayim al-Amir al-Mishri al-Azhari sebagai utusannya.
Terdapat lima tuntutan utama yang disampaikan oleh Komite Hijaz kepada Raja Abdul Aziz al-Saud. Pertama: memohon agar ajaran bermazhab Ahlussunah wal Jamaah tetap dilestarikan di Hijaz, khususnya Makkah dan Madinah, meliputi mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, maupun Hanbali. Komite juga memohon keleluasaan untuk pengajaran kitab-kitab ajaran mazhab Ahlussunah wal Jamaah, baik dalam bidang akidah, fikih, maupun tasawuf. Kedua: memohon agar tempat-tempat bersejarah, seperti makam, masjid, dan bangunan wakaf lainnya, tidak dihancurkan dan tetap bebas untuk diziarahi serta dimakmurkan. Ketiga: memohon agar penetapan tarif dan biaya haji diumumkan jauh hari sebelum musim haji tiba. Hal ini bertujuan agar jemaah haji dapat mempersiapkan ongkos dan perbekalan yang cukup, sekaligus meminimalisir penipuan dan kerugian. Keempat: memohon agar semua peraturan yang berlaku di wilayah Hijaz dapat ditulis dalam bentuk undang-undang, demi mencegah pelanggaran terhadap peraturan tersebut. Kelima: Nahdlatul Ulama memohon balasan surat tertulis yang menyatakan bahwa kedua delegasi NU telah benar-benar menyampaikan surat dan permohonan-permohonan tersebut kepada Raja Abdul Aziz al-Saud.
Dokumen bersejarah berupa catatan perjalanan Komite Hijaz yang ditulis oleh K.H. Abdul Wahhab Chasbullah menerangkan bahwa ia dan Syekh Ahmad Ghanayim al-Amir berlabuh di Jeddah sekitar pukul 09.00 pagi pada hari Senin, 17 Dzulqa’dah 1346 Hijriah (7 Mei 1928). Hari kedatangan kedua utusan Komite Hijaz di Jeddah ternyata berbarengan dengan kedatangan Raja Abdul Aziz al-Saud dari Nejd, serta kedatangan Sir Gilbert Clayton, utusan Kerajaan Inggris. Tercatat dalam dokumen tersebut:
"هيڠ دينتن اثنين 17 ذي القعدة - 7 مي 1928 سکينتن جم 9 سامڤون دوݢي هيڠ جدة کليان سلامة. اڠ ڤونيکا دينتن ڠلرسي راووه ايڤون جلالة الملک عبد العزيز سکيڠ نݢاري نجد. أوݢي سسارڠان دوݢينيڤون توان سير ݢيلبيرت کليتن اڠݢيه ڤونيکا اوتوسن سکيڠ راجا ايڠݢريس"
(Pada hari Senin, 17 Dzulqa’dah – 7 Mei 1928 sekitar pukul 09.00 telah tiba di Jeddah dengan selamat. Pada hari tersebut bertepatan dengan kedatangan Yang Mulia Raja Abdul Aziz dari negeri Nejd. Juga bersamaan dengan kedatangan Tuan Sir Gilbert Clayton, yaitu utusan dari Raja Inggris).
Ketika berada di Jeddah, kedua utusan Komite Hijaz tersebut tinggal di rumah Syekh Ahmad al-Turki, seorang cendekiawan setempat. Pada hari Rabu, 19 Dzulqa’dah 1346 H (9 Mei 1928), K.H. Abdul Wahhab Chasbullah mengunjungi kantor konsulat Belanda di Jeddah. Beliau diterima oleh Daniel van der Meulen (Konsul Belanda di Jeddah) dan Raden Abdoelkadir Widjojoatmodjo (sekretaris konsul). Kepada konsul dan sekretaris tersebut, K.H. Abdul Wahhab Chasbullah melaporkan tujuan dan misi kedatangannya ke Hijaz. Utusan Komite Hijaz tersebut juga meminta bantuan pihak konsul Belanda di Jeddah untuk memfasilitasi pertemuan dengan Raja Abdul Aziz al-Saud. Tercatat dalam dokumen tersebut:
"اڠ ناليکا دينتن ربو 19 ذي القعدة اوتوسن کيتا واهو مڠادڤ داتڠ ݢوڠسول أولندا هيڠ جدة. فرضو ڠاتوراکن کافرضوان2 ايڤون اوتوسن واهو. سها ڽوون ڤرتولوڠان داتڠ توان ݢوڠسول ڤونڤا اڠکڠ دادوس کفرضوان ايڤون. لاجڠ توان ݢوڠسول نرامي اڠ ڤونڤا کڠ دادوس ڤيکاجڠان ايڤون اوتوسن کاليه واهو. سارانا ديڤون حورماتي کليان سأچکاڤ ايڤون. لاجڠ توان ݢوڠسول تلڤون داتڠ وزير ايڤون جلالة الملک ڠاتوراکن کداتڠان ايڤون اوتوسن کاليه سکيڠ جمعية نهضة العلماء واه مقصود2ايڤون سدايا"
(Pada hari Rabu, 19 Dzulqa’dah, utusan kami menghadap kepada Konsul Belanda di Jeddah. Perlu menyampaikan keperluan-keperluan utusan tersebut. Serta memohon pertolongan kepada Tuan Konsul mengenai keperluan-keperluan mereka. Kemudian Tuan Konsul menerima segala keinginan kedua utusan tersebut. Mereka dihormati secukupnya. Lalu Tuan Konsul menelepon wazir Yang Mulia Raja untuk menyampaikan kedatangan dua utusan dari Jam’iyyah Nahdlatul Ulama serta semua maksud mereka).
Permohonan utusan Nahdlatul Ulama dari Jawa untuk bertemu Raja Abdul Aziz yang difasilitasi oleh Konsul Belanda di Jeddah pun terkabulkan. Pihak Raja Abdul Aziz menyetujui untuk menerima utusan dari Nahdlatul Ulama dan menjadwalkan pertemuan keesokan harinya, yaitu pada Kamis, 20 Dzulqa’dah 1346 Hijriah (10 Mei 1928), pukul 14.00. Pertemuan penting itu sendiri bertempat di Bait Nashif, sebuah rumah bersejarah dengan arsitektur khas Timur Tengah yang megah di jantung kota Jeddah. Tercatat dalam dokumen tersebut:
"لاجڠ نامڤي بالسان سکيڠ توان راجا يين واهو اوتوسن کڤوريه مڠادڤ اڠ توان راجا اڠ دينتن خميس 20 ذي القعدة سکينتن جم 2 سياڠ وونتن اڠ ݢريا ڤساڠݢراهان بيت نصيف کاليان اتاس ناميني شخصية ايڤون اوتوسن ڤيامباء"