Journalnusantara.com, Washington DC - Dai kondang asal Jawa Barat, Tata Sukayat, berdialog dengan Prof. Dr. Haiyun Ma, Associate Professor of History dari Frostburg State University, Amerika Serikat.
Dialog yang berlangsung di Washington DC ini membahas tema penting: hubungan antara agama dan strategi pembangunan nasional.
Dalam pertemuan tersebut, Tata menyampaikan bahwa agama dan negara memiliki keterkaitan erat dalam menyusun strategi pembangunan.
Ia memperkenalkan tiga paradigma hubungan agama dan negara: integralistik, sekularistik, dan simbiotik.
"Paradigma integralistik adalah penyatuan agama dan negara, seperti dalam gagasan khilafah atau negara Islam," jelas Tata.
"Paradigma sekularistik adalah pemisahan agama dan negara, seperti disuarakan Martin Luther atau Syaikh Ali Abd Rojik dalam Al-Islam wa Ushul al-Hukm," lanjutnya.
"Sedangkan paradigma simbiotik mengakui bahwa agama dan negara saling membutuhkan. Negara butuh masyarakat yang baik, dan itu hanya bisa dijamin oleh nilai-nilai agama."
Tata juga menyoroti pentingnya kepemimpinan berkarakter dan progresif di era modern. Ia menilai banyak birokrasi pemerintahan terlalu normatif dan lambat merespons kebutuhan rakyat.
"Pemerintahan kita sering kali hanya sanggup mengecat jalan selama bertahun-tahun. Padahal rakyat menuntut perubahan yang cepat dan berdampak."
Menurut Tata, negara maju dapat melayani rakyatnya karena ditopang oleh tiga kekuatan utama:
1. Struktural: wewenang formal untuk bertindak.
2. Kultural: dukungan masyarakat terhadap kebijakan.
3. Fungsional: peran aktif lembaga, ormas, dan LSM menjembatani pemerintah dan rakyat.
"Jika tiga hal ini terwujud di Indonesia, kita bisa melakukan pembangunan nasional yang optimal dan bebas dari konflik antar lembaga," tegas Tata.
Sementara itu, Prof. Haiyun Ma menekankan pentingnya harmoni antara nilai-nilai agama dan budaya.
"Agama dan budaya tidak boleh dipertentangkan. Harus dikolaborasikan agar menjadi panduan moral yang efektif bagi masyarakat," ujarnya.
Sebagai peneliti sejarah Islam di Indonesia, Prof. Haiyun menyoroti Walisongo sebagai contoh sukses perpaduan agama dan budaya.