Itulah yang juga kita komemorasi dengan pelaksanaan kurban dan Idul Adha. Memperingati Idul Adha bukan sekedar sholat dua raka’at. Bahkan bukan sekedar karena sembelihan itu.
Justru yang diperingati adalah spirit (semangat) pengorbanan yang telah mengantar Ibrahim menuju kepada kesempurnaan ketaatan dalam ubudiyah (pengabdian).
Komitmen penyempurnaan ketaatan dalam beragama (berislam) itulah yang kemudian terefleksi dalam rukun Islam yang kelima (Haji).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Haji, kurban dan Hijrah merupakan proses-proses yang harus dilalui untuk menuju kepada kesempurnaan dalam ketaatan dan keislaman.
Namun yang terpenting dari semua itu adalah bahwa baik haji, kurban dan Hijrah sesungguhnya merupakan tangga-tangga penting dalam proses menuju kepada kemenangan.
Karenanya jika kita lihat secara dekat lagi, semua proses ini para akhirnya mengantar kepada “fathun mubiina” yang dijanjikan itu. Itulah realita yang terjadi kurang dari sepuluh tahun setelah Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah.
Beliau dikaruniai kemenangan menaklukkan kembali Makkah Al-Mukarrkomah dari tangan-tangan najis kaum musyrikin.
Dengan segala tantangan yang dihadapi oleh umat masa kini, khususnya penderitaan saudara-saudara kita di Gaza-Palestina, kita doakan semoga Haji, kurban dan Hijrah menjadi tangga-tangga bagi kesempurnaan kita dalam ketaatan dan beragama.
Dan dengan kesempurnaan dalam ketaatan dan ubudiyah ini Allah akan mengangkat derajat umat ini ke posisi leadership (imaamah) sebagaimana yang telah dikaruniakan kepada Ibrahim dan cicitnya Muhammad SAW. Semoga!