Felix Siauw yang Culas: Membongkar Kesesatan Berpikir Soal Iran dan Palestina

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 24 Juni 2025 | 20:38 WIB
Felix Siauw jelaskan fakta Palestina dan Negara Arab.*  (YouTube Nikita Willy Official)
Felix Siauw jelaskan fakta Palestina dan Negara Arab.* (YouTube Nikita Willy Official)

Membela atau Menyesatkan?

Iran tidak sempurna. Tapi ia memihak. Ia menolak netralitas palsu dan memilih jalan penuh sanksi demi membela Palestina. Sementara sebagian negeri Sunni sibuk mengadakan konser, membuka jalur dagang, dan menyambut delegasi Israel.

Ketika Gaza dihujani bom, rudal dari Hizbullah dan Houthi adalah satu-satunya yang merespons didukung Iran. Ketika dunia Arab diam, Iran hadir. Bahkan serangan besar-besaran ke Israel pada 2024, yang melibatkan 300 lebih drone dan rudal, menjadi peringatan paling serius sejak 1948.

Apakah itu bukan pembelaan terhadap Palestina? Felix tak melihat ini. Atau memilih untuk tidak melihat. Mengakuinya berarti harus mengakui bahwa Iran berdiri di pihak yang benar dan itu terlalu berat bagi agenda sektarian.

Tragedi Intelektual dan Aib Sejarah

Felix menyebut Iran bukan bagian dari umat. Tapi bagaimana mungkin sebuah negara yang mengibarkan bendera Palestina di jalan-jalan, yang konstitusinya menolak eksistensi Israel, yang mendirikan Hari Al-Quds sebagai hari nasional, disebut bukan saudara?

Bagi Felix, tampaknya, keislaman ditentukan oleh mazhab, bukan oleh keberpihakan terhadap yang tertindas. Dan di sinilah letak kelicikan logika itu: lebih mudah menyebut sesat, daripada hadir memberi pertolongan.

Di medan perlawanan Gaza, para pejuang tak bertanya: “Kamu Sunni atau Syiah?” Mereka hanya bertanya: “Siapa yang datang? Siapa yang membantu?”

Mereka tahu jawabannya. Dan jawabannya bukan Felix. Bukan Riyadh. Tapi Teheran.

Penutup: Antara Mazhab dan Keberanian

Felix mungkin akan terus berbicara. Tapi sejarah hanya mencatat mereka yang bertindak. Qassem Soleimani bukan sekadar jenderal Iran. Ia disebut dalam doa anak-anak Gaza. Sebab terowongan mereka tidak roboh karena khutbah tapi karena rekayasa teknik militer Iran.

Felix boleh menyebutnya sesat. Tapi bagi Palestina, ia hadir. Ia nyata.

Ketika dunia sibuk memilih sisi yang aman, Iran memilih sisi yang benar. Di situlah keberanian menjadi nilai. Dan Felix, sayangnya, memilih untuk berdiri di sisi yang nyaring, tapi kosong.

Karena pada akhirnya, kebenaran bukan milik yang paling fasih. Tapi milik yang paling konsisten. Dan suara Iran, untuk Palestina, masih terdengar meski dari bawah tanah, dari langit malam, dari jalan sunyi yang dijauhi para penceramah populer.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jalan Maju Chile

Rabu, 8 Juli 2026 | 06:44 WIB

Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:19 WIB

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB
X