Dialog antar Komunitas Agama dan Konflik Timur Tengah

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 19 Desember 2024 | 05:50 WIB
Kejatuhan Rezim Assad Mengancam "Poros Perlawanan" Iran di Timur Tengah
Kejatuhan Rezim Assad Mengancam "Poros Perlawanan" Iran di Timur Tengah

Pertama kali saya berinteraksi dengan masyarakat Yahudi terjadi ditahan 2001 itu. Saya baru 4 tahun di Amerika. Lazimnya sebagai pendatang baru, bukan siapa-siapa dan tidak dikenal oleh siapa-siapa. Tapi peristiwa 9/11 tadi merubah semua itu. Saya mewakili komunitas Muslim dalam Konferensi Pers sehari setalah peristiwa WTC. Saya mewakili komunitas Muslim di acara nasional doa bersama untuk Amerika di Yankee Stadium. Kantor Walikota New York dan tokoh-tokoh agama New York mulai membuka mata. Saya kemudian banyak dilibatkan sebagai wakil Islam dalam kegiatan-kegiatan antar agama di kota New York. Di berbagai acara ini saya mulai berinteraksi dengan tokoh-tokoh Yahudi. Salah satunya ketika mewakili Komunitas Muslim dalam acara doa bersama untuk Amerika di Yankee Stadium. Di sanalah saya ketemu dengan Rabbi Arthur Schneier, tokoh agama yang pernah menerima Paus Benedict di Synagognya. Dan ternyata dia juga adalah teman dekat dengan tokoh NU dan mantan Presiden RI, Abdurrahman Wachid.

Namun dialog intens dengan masyarakat Yahudi mulai terjadi di tahun 2005. Di penghujung tahun itu Paus Yohannes II meninggal dunia. Dan saya bersama seorang Rabbi Yahudi diundang untuk wawnacara di sebuah stasiun TV di kota New York. Saya mewakili Islam dan Rabbi Schneier mewakili Yahudi untuk mendiskusikan tokoh Katolik Paus Yohannes dari perspektif non Kristen. Singkatnya kami mulai kenalan. Walaupun jarak antar kami berdua sangat terasa. Hubungan itu terasa tawar. Sikapnya yang tidak bersahabat juga menjadi faktor ketidak dekatan itu. Mungkin karena dia merasa pemilik negara ini. Atau juga karena dia orang putih (isu ras). Atau juga karena merasa paling benar dalam keyakinan (isu agama).

Namun tiga bulan kemudian semua itu berubah. Marc Shcneier rupanya diam-diam mengikuti beberapa sepak terjang saya di kota New York, khususnya di dunia Dialog antar agama dan media. Sehingga suatu ketika sang Rabi berpengaruh itu menelpon dan menyampaikan keinginannya untuk bertemu. Saya mengiyakan. Dan pada pertemuan itu saya ingatkan kenapa kurang bersahabat sewaktu ketemu di stasiun TV itu. Jawabannya ternyata benar. Dia merasa saya bukan orang Islam apalagi dikategorikan Imam. Dalam benak dia Islam itu harus orang Arab. Dia juga mengakui bahwa ketika itu ada kebencian kepada Islam dan pemeluknya.

Singkat cerita kami berdua melakukan introspeksi terhadap pandangan masing-masing. Salah satunya adalah kecenderungan “jeneralisasi” terhadap komunitas. Kesalahan sebagian seolah mewakili semua pengikut agama. Kamipun sepakat untuk menjalin Dialog dengan satu prinsip: “agree to agree, but agree to disagree without being disagreeable”. Maknanya kami sepakat untuk sepakat pada hal-hal yang dapat disepakati, baik secara prinsip keyakinan maupun secara pragmatis (kepentingan). Namun juga kami sepakat untuk tidak sepakat pada hal-hal prinsip yang berbeda, dan pada hal-hal yang menjadi kepentingan Komunitas juga berbeda. Dan semua itu tidak harus menjadikan kami saling memusuhi.

Pada perjalanan selanjutnya dengan Marc Schneier kami melakukan berbagai inisiatif yang cukup fenomenal dan bahkan pada tataran tertentu cukup menarik perhatian dan rujukan sebagian kalangan. Pertemuan para Imam (tokoh Muslim) dan Rabi (tokoh Yahudi) pertama kali dilakukan di Amerika Utara. Kami bersama-sama melawan keinginan Uni Eropa melarang pemotongan hewan secara (ritual slaughtering), yang berdampak pada makanan halal dan konsher. Dan banyak lagi, termasuk menulis buku bersama “Sons of Abraham: issues that unite and divide Muslims and Jews”. Kata pengantar buku ini dituliskan oleh mantan Presiden Amerika Bill Clinton. Dan saat ini buku itu telah diterjemahkan ke dalam 6 bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia.

Dialog antar agama dan Konflik Timur Tengah

Harus diakui bahwa konflik Timur Tengah sangat berdampak pada relasi antar kelompok manusia, baik itu antar negara maupun antar budaya dan pemeluk agama. Dialog-Dialog yang dilakukan selama ini bagaikan membangun gedung yang mulai meninggi dan nampak kokoh dan cantik. Tiba-tiba saja dengan konflik itu gedung itu hancur lebur menjadi debu-debu.

Dalam Dialog antar agama harus diakui bahwa kebijakan politik jauh lebih dominan ketimbang dorongan hati atau niat baik untuk membangun relasi harmonis dan perdamaian. Seringkali dengan politik yang bergejolak di mana-mana menjadikan Dialog antar agama menjadi hambar dan seolah hanya “nyanyian fals” (Kumbaya) yang dipaksakan.

Tapi terkhusus pasca 7 Oktober tahun 2023 lalu sangat terasa dampaknya. Terasa hubungan antar agama, khususnya Muslim-Yahudi, justeru menjadi bagian dari “justifikasi” (pembenaran) bagi terjadinya pengrusakan total (total destruction) dan genosida di Gaza. Dengan dialog rasanya seolah membenarkan apa yang terjadi, yang saya yakin siapapun yang masih berhati manusia akan merasakan kemarahan itu.

Sejujurnya di awal-awal peristiwa itu saya bersama Rabbi Marc Schneier masih melakukan upaya-upaya dialog antar agama. Salah satunya adalah mengadakan pertemuan-pertemuan dengan mahasiswa Muslim (MSA) dan mahasiswa Yahudi (Hilel) di beberapa college dan Universitas di kota New York di saat terjadi ketegangan antar kedua kelompok itu. Upaya itu mendapat banyak sambutan, positif dan negatif. Banyak media yang meliputnya termasuk MSNBC ketika itu.

Namun dalam perjalanannya hati saya semakin tidak nyaman dengan fakta yang terjadi di lapangan (Gaza). Puluhan ribu warga sipil, termasuk anak-anak dan wanita, dibunuh massal dengan bom-bom berat bahka lebih dari bom-bom yang dipakai di perang Dunia II. Saya merasa Dialog antar agama tidak bermakna bahkan justeru bisa dijadikan bamper dan pembungkus bagi penjahat. Sejak itu saya menghentikan semua kegiatan antar agama saya, khususnya yang melibatkan komunitas Yahudi.

Apakah dengan ini Dialog antar agama dikatakan mandeg dan selesai? Saya belum bisa memberikan jawaban saat ini. Tapi yang pasti adalah sangat tidak bijak dan tidak sensitif ketika saudara-saudara kita dibantai tanpa prikemanusiaan lalu kita terus membangun hubungan dengan mereka yang nampak setuju bahkan senang dengan genosida itu. Minimal yang harus dijaga adalah sensitifitas terhadap situasi dan realita yang terjadi.

Saya tersadarkan bahwa permasalahan yang kita hadapi bukan hanya masalah Palestina-Israel. Bahkan bukan hanya isu-isu global (luar negeri). Tapi juga ada isu-isu domestik sebagai bagian dari bangsa Amerika. Namun demikian, jangan pula karena kepentingan domestik lalu membelakangi Saudara-Saudara kita yang dizholimi. Apalagi dengan “magnitude” yang sangat dahsyat dan tidak berprikemanusiaan itu.

Permasalahan kita dan Komunitas lain termasuk dengan Yahudi bukan karena perbedaan agama. Islam menghormati hak semua orang untuk memeluk dan taat kepada keyakinan dan agamanya. Permasalahan kita dengan sebagian besar masyarakat Yahudi adalah permasalahan “keadilan” bagi bangsa Palestina yang terjajah. Isu ini mendasar bagi umat Islam. Karena itu penjajahan itu adalah isu akidah Tauhid: laa ilaaha illallah. Selama Israel menjajah Palestina dan Yahudi dunia mendukungnya selama itu pula akan kita tentang dan lawan.

Namun di sisi lain, posisi kami dan ini adalah posisi Islam, siap berdialog membangun kesepahaman dan kerjasama dengan siapa saja. Asal kerjasama itu terbangun di atas nilai-nilai kebenaran, keadilan dan saling memberikan manfaat (mutual benefit). Jika tidak, saya pribadi tidak ingin lagi ikut dalam paduan suara fals, menyanyakina lagu lama yang membosankan. Itu sikap dan prinsip!

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Akhlak yang Terlupakan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jalan Maju Chile

Rabu, 8 Juli 2026 | 06:44 WIB

Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:19 WIB

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB
X