Oleh: Cecep Buldansyah
Waktu jadi anggota DPR, Pramono Anung pernah mengkritik anggota DPR dari kalangan artis. Seingat saya Pramono mempertanyakan kinerja artis di DPR yang tidak kritis.
Kalau ikut rapat pun asal hadir. Waktu itu saya menapsirkan Pramono sebenarnya ingin mengatalan kalangan artis di DPR itu bodoh, cuma dengan cara halus.
Lalu ada yang ngambek dan menantang Pramono. Eko Patrio tidak terima, dan menantang Pramono bahwa artis di DPR bisa berkualitas. Pramono politikus santun, ia tidak meladeninya.
Sekarang pasca demo dampak dari kebodohan Eko, Uya dan Sahroni, Yusril mengatakan, sistem pemilu membuat orang-orang berbakat politik dikalahkan oleh artis.
Modal intelektual akademisi dan aktivis seseorang dikalahkan oleh modal popularitas. Tak heran orang dungu, yaitu para artis itu, banyak lolos ke DPR. Yang lucu, seperti Mulaan Jameela yang hanya lulusan SMA, ditempatkan di komisi energi dan pertambangan.
Jelas tidak pernah bersuara. Mau BBM mahal, mau BBM murah, mau Raja Ampat dirusak oleh penggalian nikel, ia memilih sunyi.
Ya, saya paham, kenapa tak berbunyi. Mungkin kalau ditanya dangdut dia menguasai. Uniknya, partainya, Gerindra, sampai tega menempatkan Mulaan di komisi yang begitu penting dan genting, sebuah komisi yang menentukan nasib energi bangsa kita di masa depan.
Apakah artis itu salah, tentu tidak. Seperti kata Yusril, UU Pemilu memberi jalan kepada siapa pun, termasuk artis. Itulah demokrasi. Karena itu, sejak awal Platon tidak setuju demokrasi, karena orang tolol bisa ada di kekuasaan. Ia lebih memilih teokrasi.
Kesalahan tida terletak pada artis, tapi pada pemilih. Di dapil Jawa Barat artis paling laku keras. Denny Cagur dan Komeng pertama kali nyaleg langsung lolos. Jabar memang surganya para artis buat nyaleg.
Apalagi Kota dan Kabupaten Bandung. Saya hitung, dari 22 anggota DPR berlatar belakang artis, 11 orang dari Jawa Barat. Jateng dan Jatim cuma 3 orang, Jakarta 4 orang.
Saya masih ingat, Ruhut Sitompul pernah nyaleg di Medan (saat itu dia masih di Golkar), dan gagal. Lalu ia pindah ke demokrat dan nyaleg dari dapil Kota Bandung dan Cimahi, langsung lolos. Tetangga saya di Cibiru, ibu-ibu, mengatakan, saya pilih Ruhut karena ganteng.
Astagfirullah, kata saya dalam hati.
Jadi tidak salah kalau Jabar disebut surganya para artis buat nyaleg. Denny Cagur itu setahu saya rumahnya di Tangerang, tapi berkibar di Kabupaten Bandung.
Kata teman saya, seorang aktivis perempuan yang cukup pintar dan kritis yang juga nyaleg dari Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, tumbang. Padahal ia masih muda.