Maung Bikang: Kisah Heroik LASWI dan Peristiwa Pemenggalan Komandan Gurkha (1945-1946)

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Selasa, 24 Februari 2026 | 11:02 WIB
Maung Bikang LASWI. (FOTO: Istimewa)
Maung Bikang LASWI. (FOTO: Istimewa)

 

JOURNALNUSANTARA.COM - Bandung Akhir 1945 sampai Awal 1946. Di tengah gempuran Sekutu dan NICA yang membonceng, Laskar Wanita Indonesia atau LASWI membuktikan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya milik kaum pria.

Anggota LASWI yang dijuluki Maung Bikang atau Macan Betina menorehkan kisah pertempuran sengit yang begitu heroik hingga membuat Belanda dan pasukannya, khususnya Brigade Gurkha, merasa gentar.

Didirikan oleh Ny Sumarsih Yati Arudji Kartawinata pada 12 Oktober 1945, LASWI pada awalnya dipandang sebelah mata dan dituding hanya akan menghambat perjuangan. Namun, mereka dengan cepat membungkam keraguan itu.

Para anggotanya yang terdiri dari gadis, janda, dan ibu rumah tangga dengan rata-rata usia di atas 18 tahun segera turun ke medan pertempuran setelah kedatangan tentara Sekutu dan Gurkha di Bandung.

Peran LASWI terbagi dalam beberapa sektor vital. Pada garis depan atau kombatan, mereka terlibat dalam konfrontasi langsung dan seringkali hanya berbekal senjata sederhana sambil mengasah kemampuan militer dari para instruktur Tentara Keamanan Rakyat.

Pada sektor Palang Merah dan logistik, mereka mengurus korban perang, menyediakan obat-obatan, dan mendirikan dapur umum yang sering menjadi sasaran empuk serangan musuh. Sementara di bidang intelijen, mereka melakukan penyusupan dan pengintaian di wilayah pendudukan musuh.

Kisah paling menggemparkan yang menunjukkan keberanian ekstrem LASWI terjadi pada awal tahun 1946. Insiden ini tercatat dalam banyak sumber sejarah dan bahkan diakui oleh Jenderal A H Nasution dalam memoarnya.

Latar belakang ketegangan di Bandung saat itu sangat tinggi, diwarnai provokasi dan kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Gurkha yang merupakan pasukan elite Inggris India.

Dua anggota LASWI yang bernama Soesilowati dan Willy melakukan operasi yang sangat berani. Dalam sebuah insiden yang menunjukkan kemampuan bertempur jarak dekat, kedua srikandi ini berhasil menembak mati dan memenggal kepala seorang komandan pasukan Gurkha.

Soesilowati kemudian dilaporkan membawa kepala perwira Gurkha yang masih berlumuran darah tersebut dan meletakkannya di atas meja Kolonel A H Nasution.

Aksi ini merupakan manifestasi kemarahan dan pembuktian bahwa laskar perempuan Bandung sama sekali tidak lembek dan setara dalam keberanian dengan laskar pria. Sejak saat itu, keberanian LASWI sangat disegani oleh musuh dan membuat Nasution memberikan tempat khusus bagi laskar perempuan ini.

Perjuangan LASWI bukannya tanpa pengorbanan. Markas LASWI di Majalaya pernah menjadi sasaran pengeboman brutal oleh pesawat Inggris pada Agustus 1946 yang menunjukkan betapa strategisnya posisi mereka di mata musuh.

Serangan itu menghancurkan markas dan mengakibatkan empat anggota LASWI gugur serta sepuluh lainnya terluka, termasuk salah satu pimpinan bernama Saartje atau Euis Sari'ah yang mengalami kerusakan pendengaran permanen. Tragedi ini dipicu oleh mata-mata musuh yang berhasil menyusup, namun juga menunjukkan bahwa LASWI adalah target militer yang serius.

Hingga pecahnya peristiwa Bandung Lautan Api pada Maret 1946, LASWI terus berjuang, bahkan ikut dalam gelombang hijrah ke Yogyakarta saat TNI dan laskar lain mundur untuk melanjutkan perjuangan sebagai pejuang gerilya, kurir, dan tenaga PMI.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Seni Membangun Kepercayaan Diri di Atas Panggung

Selasa, 2 Juni 2026 | 07:44 WIB

Makan Malam dan Dampaknya Bagi Kesehatan

Rabu, 1 April 2026 | 21:13 WIB
X