JOURNALNUSANTARA.COM - Akhir 1970-an dunia tenis menyaksikan pertemuan dua karakter yang nyaris bertolak belakang antara Bjorn Borg dan John McEnroe. Borg adalah bintang besar yang tenang dan nyaris tanpa ekspresi sementara McEnroe pemain muda berbakat yang sangat emosional.
Musim panas 1979 keduanya bertemu dalam sebuah turnamen indoor di New Orleans saat usia mereka masih sangat muda. Seperti biasa McEnroe bermain dengan bara amarah dengan melempar raket serta memaki wasit hingga kehilangan kendali diri.
Saat skor imbang pada set penentu Borg tiba-tiba memanggil McEnroe ke net untuk memberikan sebuah pesan singkat. Bukannya menegur Borg justru merangkul bahu McEnroe dan berkata dengan suara pelan agar lawannya itu tetap santai.
Kalimat singkat itu memiliki dampak luar biasa yang berhasil meredakan simpul kemarahan serta kecemasan dalam diri McEnroe. Momen itu menjadi titik balik bagi McEnroe yang kemudian menyadari bahwa ia tidak perlu lagi sibuk memikirkan gangguan luar lapangan.
Borg tidak memaksa atau memanipulasi namun ia hadir sepenuhnya sebagai pribadi yang fokus peka tenang dan menghargai. Ia tidak terseret oleh badai emosi lawannya sehingga kata dan bahasa tubuhnya menyatu dengan sempurna tanpa ada yang berlebihan.
Banyak orang mampu mengatakan hal yang tepat namun hanya sedikit yang mampu benar-benar menjadi pesan itu sendiri. Otoritas sering disalahartikan sebagai kekuasaan padahal keduanya berbeda secara mendasar dalam praktik kepemimpinan di kehidupan nyata.
Kepemimpinan sejati diukur dari dampak positif yang dihasilkan bukan sekadar dari posisi formal atau jabatan semata. Pengaruh sejati hadir melalui dialog yang menciptakan aliran makna di dalam kelompok bukan melalui debat yang bertujuan memenangkan ego.
Kisah Borg dan McEnroe memperlihatkan hakikat pengaruh yang sesungguhnya yaitu kehadiran yang tenang utuh dan selaras. Pengaruh terbesar sering kali tidak terdengar nyaring namun ia hadir diam-diam dan meninggalkan jejak perubahan yang bertahan sangat lama.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Terus Berbenah (Bagian 2085)
Dari High Heels ke Apron: Narasi Career Woman To Housewife
Ritual “Self Reward” atau Jebakan Hasrat?
Tiga Kandidat Siap Berebut Kursi Ketua PC PMII Cianjur dalam Konfercab XXII
Miss Bintang Indonesia, Beauty Pageant sebagai Ruang Ekspresi Perempuan di Era Budaya Populer
Mutiara Pagi: Hari Terima Kasih (Bagian 2086)
PMII dan Secangkir Kopi
Akselerasi Instruktur dan Pelatih Profesional, PC IPNU–IPPNU Ciamis Gelar LATIN–LATPEL
Mutiara Pagi: Ditolong karena yang Lemah (Bagian 2087)
Kehilangan Indonesia