Journalnusantara.com - Nama Kerajaan Kalingga ini sebenarnya sangat familier, disebutkan diberbagai macam cerita, orang-orang Kalingga ini kemudian disebut sebagai orang Keling. Namun Kerajaan Kalingga yang disebut-sebut itu merujuk pada nama sebuah Kerajaan yang berada di India sana, bukan yang ada di Indonesia.
Belakangan di Indonesia sendiri, khususnya di Pulau Jawa rupanya pernah berdiri suatu kerajaan yang bernama Kalingga. Kerajaan ini muncul karena adanya kabar berita dari Naskah Kuno yang ditemukan di Cina. Naskah Kuno tersebut adalah catatan dari pemerintah dinasti Tang di Cina yang memerintah negeri itu pada 618 M - 906 M.
Selain nakah resmi kerajaan, rupanya kabar mengenai adanya Kerajaan Kalingga di Jawa juga dikabarkan oleh pendeta Budha asal Cina yang bernama I-Tshing yang melakukan kunjungan ke Jawa pada tahun 664/665 M.
Perlu dipahami bahwa penyebutan Kalingga itu lidah orang Jawa, sementara penyebutan Kalingga menurut lidah orang Cina sebagaimana naskah kuno milik dinasti Tang dan Pendeta I-Tshing itu adalah Ho-Ling.
Selain kabar dari Cina, eksistensi keberadaan kerajaan Kalingga juga sebenarnya terdapat juga dalam naskah-naskah lokal maupun cerita rakyat, hanya saja naskah dan dongeng-dongeng tersebut bukan berasal dari masa sejaman berdirinya. Diantara naskah lokal yang menceritakan mengenai kerjaan Holing adalah Naskah Cerita Parahyangan dari Jawa Barat.
Berdasar kan naskah kuno baik yang berasal dari Cina maupun lokal, kemudian para sejarawan dapat merekonstruksi tentang bagaimana dan seperti apa gambaran mengenai Kerajaan Kalingga yang ada di pulau jawa tersebut. Adapun pemaparannya adalah sebagai berikut:
Kalingga atau Ho-ling adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu-Budha yang pernah ada di Jawa Tengah sekitar abad ke5-6 masehi. Letak dan pusat kerajaan di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Hal ini didasarkan pada berita Cina dan bukti-bukti peninggalan Kerajaan itu baik dongeng maupun bukti fisik Candi dan prasasti.
Gambaran mengenai letak Kerajaan Kalingga tersebut adalah dapat dipaparkan sebagaimana berikut:
Kalingga atau disebut Jawa terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera.Ibukota Kalingga dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading. Penduduk Kerajaan Kalingga sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapaDaerah Kalingga menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.
Pemerintahan di Kerajaan Kalingga dikepalai oleh seorang Ratu, tidak diketahui kejelasan pemerintahan selanjutnya maupun sebelumnya, data atau kisah yang terdapat dalam naskah dan dongengan rakyat hanya membahas mengenai satu Ratu yang kala itu memerintah Kalingga, Ratu itu bernama Shima.
Dalam catatan Cina diberitakan bahwa sejak tahun 674, rakyat kerajaan Kalingga diperintah oleh Ratu Hsi-mo (Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Kalingga disebutkan sebagai kerajaan yang sangat aman dan tentram.
Kabar mengenai Ratu Shima ini juga dikisahkan dalam naskah Parahyangan yang menyatakan bahwa;
Putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasena.
Sanaha dan Bratasena memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).
Setelah Maharani Shima meninggal pada tahun 732 M, Raja Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.
Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.Dalam sumber lain, Kerajaan Kalingga ini kemudian ditaklukan oleh Sriwijaya Pada tahun 752 M.
Sementara itu menurut dongengan rakyat disekitaran Pekalongan dan Jepara, disebutkan bahwa;
Artikel Terkait
Jangan Cengeng, Optimis Raih Swasembada Pangan
Pertama Kali di Cianjur, Terasia Episode 2
Paradoks Perberasan
Menyibak Hakikat Kerugian dalam Lintasan Waktu
Igornas Cianjur Sosialisasikan Senam Waringkas dan Anak Indonesia Hebat
Mutiara Pagi: Di Sini Tempat Lahir Kita (Bagian 1742)
Mengurai dan Menakar Luka di Tengah Konflik yang Tak Sehat Oleh: Munawir
Hadiah Awal Tahun: Jennifer, Siswi SMA Menerima Islam
Upaya Wujudkan Indonesia Emas, GP Ansor Luncurkan Asta Cita Center
Kisah Pegawai VOC yang Dibuang ke Pulau Terpencil di Samudera Atlantik