Oleh: KH. Cholil Nafis, Ph.D
Pergantian tahun dari 2024 menuju 2025 menyadarkan kita bahwa waktu terus berputar tanpa pernah berhenti, apalagi terulang kembali.
Dalam perjalanan hidup, setiap manusia diberikan waktu yang sama—24 jam sehari, 7 hari seminggu—namun cara kita memanfaatkannya berbeda-beda. Perbedaan inilah yang menentukan kualitas hidup seseorang.
Kualitas hidup bukanlah soal berapa lama kita hidup, tetapi bagaimana waktu itu digunakan. Umat Nabi Muhammad adalah contoh nyata. Meski memiliki usia rata-rata yang pendek, sekitar 60 hingga 70 tahun, mereka diberkahi oleh Allah dengan kualitas hidup yang melampaui umat nabi-nabi terdahulu yang hidup hingga ratusan tahun. Keberkahan ini menjadikan mereka khaira ummah, umat terbaik, karena waktu mereka yang singkat diisi dengan hal-hal yang penuh makna.
Allah SWT begitu menekankan pentingnya waktu dalam Al-Qur’an, bahkan sampai bersumpah atas nama waktu di beberapa ayat-Nya. Empat surat diberi nama sesuai dengan waktu: Al-Fajr, Adh-Dhuha, Al-‘Ashr, dan Al-Lail. Keempatnya menjadi cermin perjalanan hidup manusia sekaligus panduan bagaimana kita seharusnya memanfaatkan waktu.
Surat Al-Fajr mengingatkan kita akan pentingnya fajar sebagai awal kehidupan. Fajar adalah simbol kebangkitan dari tidur, dari “kematian kecil” di waktu malam. Di waktu inilah manusia seharusnya berpikir, merancang, dan mempersiapkan langkah-langkah untuk menjalani hari.
Fajar juga melambangkan masa muda, masa terbaik untuk menimba ilmu, mengumpulkan bekal, dan mempersiapkan diri menghadapi perjuangan hidup di masa dewasa.
Kemudian datang waktu dhuha, saat mentari mulai meninggi dan kehidupan mulai bergerak. Cahaya dhuha menjadi simbol produktivitas, waktu di mana manusia bekerja keras untuk dirinya dan lingkungannya.
Dalam surat Adh-Dhuha, Allah menyeru kita untuk memberikan bakti kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan, seperti anak yatim dan orang yang meminta-minta.
Waktu dhuha adalah masa untuk menanam kebaikan, baik melalui kerja keras maupun kepedulian terhadap orang lain, karena hanya mereka yang cukup memiliki yang dapat berbagi.
Ketika sore tiba, Surat Al-‘Ashr mengingatkan bahwa setiap manusia, pada dasarnya, berada dalam kerugian kecuali mereka yang menggunakan waktu dengan baik. Waktu sore adalah pengingat akan perjalanan hidup yang tak dapat diulang.
Mereka yang menyia-nyiakan waktu fajar untuk belajar, melewatkan waktu dhuha tanpa bekerja, atau menjalani masa muda tanpa persiapan, akan menyesal di usia senja. Namun, penyesalan saja tidak cukup karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.
Pada akhirnya, waktu malam seperti yang digambarkan dalam Surat Al-Lail menjadi cermin hasil dari bagaimana manusia memanfaatkan waktu di siang harinya. Mereka yang mengisi waktu fajar dengan perencanaan, bekerja keras di waktu dhuha, dan menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab akan menemukan ketenangan di malam hari.
Mereka dapat tidur dengan pulas, menjalani hidup dengan damai, bahkan menghadapi kematian dengan penuh ketenangan. Sebaliknya, mereka yang menyia-nyiakan waktu akan menghadapi malam dengan keresahan, sulit tidur, dan akhirnya menyesali hidup mereka hingga ajal menjemput.
Artikel Terkait
Asul-usul Jalan Mampang Prapatan Jaksel
Lima Problema Mendasar Dunia Masa Kini
Catatan Akhir Tahun: Buku, Kata dan Masa Depan
Panggung Depan dan Belakang Kehidupan Seorang Pendidik
Makna 1 Rajab: Momentum Refleksi dan Penguatan Ibadah
Asa di Tahun Baru 2025
Ruang Publik dan Ruang Politik
Mutiara Pagi: Hidup Harus Menari (Bagian 1728)
Awal 2025 dengan Harapan yang Seperti Dulu
Mengapa Kita Terus Mencari Kebahagiaan di Tempat Salah?