Kisah Perjuangan KH Muhammad Kholilullah, Ulama Kharismatik Asal Sukabumi

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 17 Februari 2023 | 06:00 WIB
Kisah Perjuangan KH Muhammad Kholilullah, Ulama Kharismatik Asal Sukabumi
Kisah Perjuangan KH Muhammad Kholilullah, Ulama Kharismatik Asal Sukabumi

Di usia 6 tahun, sekitar 1919 guru pertama Apa Lili adalah ibu kandungnya sendiri (Siti Saudah) atau Kakak dari KH. Masthuro, yang mengajarkan membaca Al-Quran. Lalu Kyai Khoilullah sebagaimana anak pada umumnya memasuki sekolah rakyat negeri (SRN) di usia 7 tahun selama 4 tahun lamanya.

Kemudian beliau melanjutkan menjadi santri di sekolah Ahmadiyah (tidak ada hubungannya dengan salah satu aliran keagamaan) yang kini menjadi Al Masthuriyah pada usia 11 tahun yang didirikan Kyai Masthuro yang berada di kampung Tipar tepatnya pada 9 Rabiul Akhir 1338 Hijriah (1 Januari 1920).

Selain mengeyam pendidikan keislaman secara umum, Apa Lili dikenal sebagai tasyabah bi al-salafi al sholihin mina al-mutaqaddimin fi thobaqqaati a-ula yang langsung dibimbing langsung oleh Kyai Masthuro (pamannya dari garis ibu) selama 6 tahun.

Apa Lili belajar banyak dari Kyai Masthuro di antaranya, kitab-kitab tasawwuf seperti Al Hikam karangan Ibnu Athaillah dan kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali yang dilakukan tiap Rabu selama kurang lebih 5 tahun di rumah Kyai Masthuto.

Secara kalkulasi Apa Lili di sini belajar selama 11 tahun dari pamannya sendiri. Tak cuma berhenti di situ segala jenis kitab kuning habis dilahap Kyai Kholilullah, bekiau mengaji kitab Shahih Bukhari Muslim dari Syekh bin Salim Al-Athos, terutama pasca shalat ashar, khususnya lagi di bulan ramadan.

Dengan demikian, Kyai Kholilullah, khatam menimba ilmu keislaman yang bersumber dari silsilah yang valid dan jelas. Setelah belajar banyak, pada 1930, Apa Lili mengajar di sekolah Ahmadiyah, pada 1941 di pesantren Sirojul Athfal dan pada 1950 di Sirojul Banat.

Ketiga lembaga inilah cikal bakal Pesantren Al Masthuriyah yang tak terpisahkan, Apa Lili mengajar disana selama 30 tahun.

Tidak berhenti sampai di situ, pada 1943 Kyai Kholilullah mendirikan majelis ta’lim yang dinamakan An Nur yang selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya banyak pondok pesantren.

Baca Juga: Catatan 1 Tahun Menuju Hari-H Pemilu 2024

Kemudian pada 1 Januari 1958 (atau 11 Jumadil Akhir 1377 H), berdirilah pondok pesantren Sirojul Athfal hasil tangan dingin Kyai Kholilullah yang terletak di kampung Cibaraja, yang diambil dari nama tempat ia menimba ilmu dan mengajar di pesantren besutan Kyai Masthuro.

Tak lama berselang berdirilah madrasah diniyah pada 1959, setahun setelahnya dan madrasah ibtidaiyah pada 1967 yang sayangnya hanya berjalan 18 tahun sedangkan pesantren Sirojul Athfal dan madrasah diniyah masih berlangsung hingga saat ini yang dipimpin dan diasuh oleh para cucu & cicit beliau serta menantunya.

Tapi kini Apa Lili telah tiada, yang perlu kita lakukan adalah memetik api keteladan beliau yang tidak akan lekang oleh waktu. Ia wafat tepat hari Jum’at.

Sebuah hari baik menurut Rasulullah. Tentu orang alim punya caranya sendiri dalam menyampaikan salam perpisahan. Sejatinya ia tidaklah pernah pergi tetapi hanya pulang. Ya, pulang ke pangkuan Tuhan, Allah sang pemilik segala sesuatu.

Tanpa ingin menyisakan kesedihan bagi para anak-anak dan para santrinya. Ia menggunakan metafor atau isyarat untuk berpamitan. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia berkata kepada putra nomor empatnya, Kyai Muhammad Djihad Kholilullah.

”Apa hayang balik, pang neangankeun mobil,” (Apa ingin pulang, carikan mobil), kata Apa Lili.
Mungkin bingung harus menjawab apa, selain menanggapi secara datar. ”muhun, dipilarian mobilna” (Iya, sedang dicarikan mobilnya), jawab Kyai Djihad.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Sumber: radar sukabumi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X