Journalnusantara.com, Sukabumi - KH. Kholilullah yang biasa disapa Apa Lili berkontribusi besar terhadap kemerdekaan Indonesia dalam rangka melawan kolonial Belanda. Salah satunya, ikut berjuang bersama pasukan Hizbullah ketika perang Bojongkokosan pada 2 dan 9 Desember 1945.
Bayangkan jika tidak ada sosok visioner dan pemberani sepertinya, barangkali bangsa ini masih dalam penguasaan penjajah. Dan kita sebagai anak bangsa mungkin tidak pernah merasakan kemerdekaan seperti sekarang ini.
Di sinilah, nilai luhur yang tak boleh dilupakan dalam konteks haul, karena napak tilas sejarah harus terus dihidupkan agar kita tidak menjadi bangsa yang amnesia. Sebab begitu anak bangsa melupakan sejarah di situlah awal kehancuran sebuah negara.
”Untuk menghancurkan negara atau bangsa, hapus sejarahnya dan tulislah sejarah baru,” begitu kira-kira modus yang dilancarkan kaum orientalisme Barat.
Apa Lili, punya golok pamungkas kesayangan yang digunakan untuk memukul mundur Belanda. Golok inilah salah satu saksi bisu yang paling valid. ”Eta golok aya nu hideungan urut geutih walanda nu dikadeuk keur perang Bojongkokosan”. Dalam terjemahan bebasnya, artinya “golok itu ada karatan bekas darah orang Belanda yang dibacok.
Selain itu, Apa Lili merupakan ulama pribumi yang lengkap secara penguasaan ilmu. Ia bukan hanya berjuang lewat dakwah atau ucapan tetapi juga berani turun di medan perang secara fisik.
Ia adalah ulama intelektual yang menyiarkan Islam melalui pena, bukan seperti ulama kebanyakan yang sekedar menjalankan syariat atau ibadah secara rutin melainkan juga membedah, mendalami dan mengkaji Islam secara komprehensif.
Bukan sekedar hafal ayat dan hadis tapi mengerti betul makna serta asbabun nuzulnya. Sehingga ia memiliki perangkat dan pandangan yang luas untuk memaknai teks dalam konteksnya.
Baca Juga: Gempa Cianjur, 135 Anak Kehilangan Orangtua
Fakta tersebut bisa ditelusuri lewat buku Biograi ”Buya KH. Dadun Sanusi” yang ditulis Lia Nuraliah, S.S, M.M pada 2005 lalu. Di sini disebutkan bahwa Apa Lili sempat menulis karya buku berjudul ”Isyarah Huruf Hijaiyah” yang dilahirkan dengan cara mengawinkan antara kajian akademis keislaman dan aspirasi spiritualitas atau ilham.
Buku fenomenal ini, rutin diajarkan kepada para santrinya, terutama saat pengajian asar yang digelar dari 1985 hingga 1986. Kemudian karya tersebut disusun ulang sehingga menjadi lebih sistematis oleh anaknya yang bernama KH. Muhammad Djihad Kholilullah.
Lalu, ada hal yang tidak banyak diketahui masyarakat luas kecuali oleh para santrinya atau lingkaran terdekatnya, yaitu ternyata Apa Lili memiliki karomah yang tidak main-main.
Bentuk karomahnya dialami langsung dua santrinya ketika beberapa kali pergi umrah dan haji di mana mereka mengaku bertemu Apa Lili sedang menunaikan shalat di Masjidil Haram, Makkah. Padahal setelah dikonfirmasi saat itu beliau ada di tanah air.
Sebagaimana diketahui, jika ada seseorang yang punya karomah tentu bukan orang sembarangan. Artinya dari segi ketaqwaan sudah lulus verifikasi di hadapan Allah. Sebab orang yang mendapatkan karomah pastinya orang yang bersih dan menjalankan taqwa secara paripurna.