Lantas muncul pertanyaan, bagaimana lonceng tersebut bisa berada di Cianjur? Soal itu memang belum terjawab secara pasti oleh para peneliti sejarah dan para sejarawan.
Dalam buku Sejarah Cianjur karya Raden Makbul Husein dan Abdur Rauf, disebutkan bahwa lonceng itu konon dihadiahkan oleh VOC untuk Aria Waratanudatar (bupati pertama Cianjur).
“Ketika Aria Cikondang sebagai utusan sang ayah, datang ke Batavia dia lantas dihadiahi sebuah lonceng sebagai tanda mimitraan (kerjasama),” tulis Raden Makbul Husein dan Abdur Rauf.
Baca Juga: Menteri Agama Usulkan Biaya Perjalanan Ibadah Haji Tahun Ini Rp69 Juta
Keterangan di atas jelas paradoks secara historis. Aria Wiratanudatar berkuasa jauh sebelum tahun 1774 (waktu ketika lonceng itu selesai dibuat).
Dia menjadi penguasa di Cianjur dari tahun 1677 hingga 1691. Jadi perbedaannya hampir seratus tahun.
Kemungkinannya lonceng itu bisa disimpan di Cianjur ada dua. Pertama, bisa jadi itu dihibahkan pemerintah Hindia Belanda kepada Cianjur di awal abad ke-19, sebagai simbol penghargaan.
Menurut Jan Breman dalam buku Keuntungan Kolonial dari Kejapaksa, sejak awal abad ke-18 Cianjur merupakan sumber devisa terbesar bagi pemerintah Hindia Belanda pasca VOC runtuh akibat korupsi. Terutama untuk komoditas kopi.
Kedua, lonceng itu dihadiahkan khusus untuk Bupati Prawiradiredja II karena prestasinya yang sangat hebat dalam membangun Cianjur.
Besar kemungkinan benda itu diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1904 ketika pemerintahan Cianjur mengadakan pesta peringatan ke-40 berlangsungnya pemerintahan Prawiradiredja II.
Baca Juga: Update! Densus 88 Tangkap 3 Terduga Teroris di Jakarta dan Tangerang Selatan
Bataviaasch Nieuwsblad tertanggal 26 Agustus 1904, mengisahkan bagaimana saat itu para pejabat dan pemuka komunitas Eropa, Tionghoa dan tokoh-tokoh bumiputera memberikan berbagai aneka hadiah menarik kala itu kepada sang bupati. (hendijo)