Journalnusantara.com - Jika anda berkunjung ke pendopo Kabupaten Cianjur maka sempatkanlah untuk datang ke satu sudut di arah barat tempat tersebut.
Di sana anda akan menemukan satu benda yang sudah ratusan tahun usianya namun sama sekali asing asal-usulnya, pun buat orang-orang Cianjur sendiri.
“Yang saya ingat pada 1950-an, lonceng itu kerap dibunyikan tiap hari, dan jumlah pukulannya disesuaikan dengan angka jam yang sedang berlangsung…,” ungkap Pepet Johar (75), salah satu cicit Prawiradiredja II, bupati Cianjur ke-10.
Jauh sebelumnya yakni sekira tahun 1900-an, lonceng itu pernah dijadikan pengingat berlangsungnya jam malam. Dari para leluhurnya, Dadan (79) mendapat cerita: seiring lonceng dipukul sembilan kali di waktu malam, maka beberapa upas (petugas keamanan kabupaten) yang menunggang kuda berkeliling untuk memeriksa apakah masih ada penduduk berkeliaran atau tidak.
Baca Juga: Rezeki vs Gaji
“Jika mendapatkan penduduk termasuk para bocah masih berada di luar rumah maka mereka langsung disuruh untuk ngampih (segera masuk rumah),” tutur seniman senior di Cianjur itu.
Lonceng itu pun di era kolonial pernah berfungsi sebagai pemberi informasi telah terjadinya suatu peristiwa penting di Cianjur. Dalam Preanger Bode tertanggal 23 Maret 1910, dikisahkan ketika bupati terkemuka Cianjur R.Prawiradiredja II mangkat pada 17 Maret 1910, lonceng kabupaten dibunyikan beberapa kali tepat pada jam 6 pagi, disusul bunyi beduk bertalu-talu dari Masjid Agung Cianjur .
Banyak versi yang beredar sekitar asal-usul lonceng itu. Namun jika mengacu kepada tulisan yang tertera di kepala lonceng (BORCHHARD GEGOTEN IN T AMBAGD QWARTIR TOT BATAVIA 1774), besar kemungkinan benda tersebut dibuat di Batavia oleh Johan Christian Borchhard, seorang pengrajin lonceng Eropa terkemuka pada abad ke-18.
“Lonceng buatan Borchhard tersebar dari Belanda hingga Afrika Selatan,” ujar V.R. Najoan, peneliti sejarah dari Historika Indonesia.
Baca Juga: Tampil Cantik! Miss Universe Asal Bahrain Evlin Khalifa Pakai Kostum Burkini
Borchhard sebenarnya seorang berkebangsaan Jerman, namun menjelang kematiannya pada 1777, ia kerap bermukim di Enkhuizen, Belanda.
Dari penelisikan yang dilakukan oleh Najoan, ada dua lonceng karya Borchhard yang dibuat di Batavia, khusus untuk Gubernur Jenderal VOC (Maskapai Perdagangan Hindia Belanda) ke-29 Petrus Albertus van Der Parra.
Lonceng pertama selesai pada 1772 sedangkan lonceng kedua rampung pada 1774, setahun sebelum van Der Parra meninggal secara mendadak.
“Jika melihat kisah tersebut, saya memiliki pendapat lonceng yang terdapat di muka pendopo Cianjur itu adalah lonceng kedua. Itu dibuktikan dengan tahun yang tertera di kepala lonceng yakni 1774," ungkap lelaki yang rajin menelisik arsip-arsip di era VOC itu.
Artikel Terkait
BKPRMI Cianjur Gelar Diklatsar Brigade Masjid
Hilangkan Stigma Negatif Terhadap Anak Down Syndrom
Update! Densus 88 Tangkap 3 Terduga Teroris di Jakarta dan Tangerang Selatan
Menteri Agama Usulkan Biaya Perjalanan Ibadah Haji Tahun Ini Rp69 Juta
Miss Bahrain Tolak Pakai Bikini di Ajang Miss Universe, Alasannya Bikin Menohok
Kembali, Gempa Bumi Guncang Cianjur
Tampil Cantik! Miss Universe Asal Bahrain Evlin Khalifa Pakai Kostum Burkini
Rezeki vs Gaji
Sekeluarga di Bekasi Tewas Karena Keracunan
Sadis! Pembunuhan Berantai Oleh Wowon Memakan Korban Keluarga Sendiri