"Buku katolik di tanah santri ini ada energi rahmatan lil alaminnya, bahwa santri menjadi simbol keberagaman, bahwa katolik tidak nenjadi eksklusivitas", ujar Ketua PB HMI periode 2018-2020 tersebut.
Selanjutnya tanggapan dari Fajar Iman Hasani, menurutnya lebih baik jika tidak hanya sebatas toleransi, melainkan juga membuat gerakan untuk kebangkitan sosial.
Baca Juga: Kasihan, Puluhan Korban Gempa Cianjur Idap Gangguan Jiwa
"Kehadiran katolik di Pandeglang, Labuan justru berkontribusi juga terhadap pemberdayaan sosial khususnya pendidikan," ujar Direktur Program Merial Institute tersebut.
"Di sana membuat sekolah Mardiyuana, dan juga bung deni menyebutkan siswa dan tenaga pengajar banyak dari muslim juga," tambahnya.
Selanjutnya Fajar berpesan bahwa jangan sampai isu-isu moderasi beragama berhenti di wilayah toleransi saja, tapi harus lebih digerakan kepada membangun keadilan sosial.
Kemudian penanggap ketiga dari perwakilan santri yang merupakan ketua lembaga Bahsul Masail yaitu H. Imad sapaan akrabnya.
Menurutnya buku ini sangat bagus dan mencerminkan toleransi antar umat beragama.
"Kami sangat mengapresiasi sekali, tentang hadirnya semakin banyak buku-buku untuk membangun toleransi umat beragama ini, karena yang paling utama itu adalah ketenangan beribadah ya", jelas H. Imad.
Tanggapan terakhir dari Polresta Bogor Kota yang diwakili oleh Wakasat Intelkam, beliau mengapresiasi acara yang digelar VoC ini.
Baca Juga: 15 Manfaat Buah Naga, Nomor 7 Menurunkan Berat Badan
"Kami mendukung kegiatan temen-temen semua, untuk kegiatan yang akan datang kami akan support, semoga kedepannya lebih maju, lebih keren lagi," ujar Harsono Sat Intelkam.
Sebagai penutup, Yoga Prasetia selaku Founder Voice of Cita memberikan tanggapannya mengenai hasil dari keseluruhan bedah buku pada 24 Desember 2022.
"Kalau kita sudah sepakat keberagaman itu keniscayaan, berarti tahun berikutnya tinggal berbicara bagaimana antar umat beragama ini membangun suatu kolaborasi yang produktif, dan itu bisa bermanfaat bagi bangsa," ucap Yoga.***