Journalnusantara.com, Cianjur - Dugaan penganiayaan ulama yang dialami Pimpinan Pondok Pesantren Hibbatussadiyyah Nagrak Cianjur, KH Cepy Hibbatullah memancing reaksi dan kemarahan masyarakat luas.
Hal ini terjadi lantaran Ajengan Hibbat sapaan akrabnya, seorang ulama Cianjur diduga diperlakukan tidak baik, dipukul dan ditendang serta dimaki-maki dengan kata-kata kasar oleh beberapa orang pelaku saat hendak bertakziyah, Senin (07/11/2022).
Untuk menghindari kemarahan masyarakat luas, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cianjur mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpancing emosi dengan cara main hakim sendiri.
"Meskipun tensinya menghangat, mohon masyarakat khususnya warga NU untuk tidak terpancing, apalagi bertindak diluar kontrol, memancing emosi, dan tindakan di luar koridor hukum yang berlaku di negara kita," kata Sekretaris PCNU Cianjur, Aang M Subchan ZE.
Kiai muda yang akrab dipanggil Aang ZE telah mengintruksikan LPBH NU untuk mengadvokasi kasus dugaan penganiayaan terhadap KH Cepy Hibbatullah.
“Kami datang menjenguk beliau sebagai sahabat dan juga sebagai kesatuan dalam perkumpulan Nahdlatul Ulama ke Pondok Pesantren Hibbatussa'diyyah, Kampung Tegal Deukeut, Desa Nagrak, Cianjur ini yang mendapatkan musibah penganiayaan oleh pelaku yang tidak bertanggung jawab," ucapnya menjelaskan.
Menurut Aang ZE, penganiayaan terhadap seorang ulama adalah perbuatan biadab yang tidak boleh terjadi lagi dikemudian hari. Apalagi, korban adalah sahabat dari para ulama yang ada di Kabupaten Cianjur.
“Oleh karena itu, setelah berkonsultasi dengan Ketua PCNU Kabupaten Cianjur, maka diambil langkah dengan menerjunkan LPBH NU untuk mendampingi korban,” imbuhnya.
Ia mengutarakan, alhamdulillah personil LPBH NU sudah datang kepada korban, menanyakan segala macam, termasuk kronologi kejadiannya. Kemudian akan diambil sikap resmi mengenai langkah lanjutan.
“Yang jelas, kejadian ini harus yang terakhir. Tidak boleh ada lagi terjadi perilaku biadab penganiayaan terhadap seorang ulama,” tambahnya.
Dirinya berharap, semua lapisan masyarakat yang merasa tersinggung dengan kejadian ini agar tetap tenang dan tidak mengambil tindakan main hakim sendiri.
“Kita adalah negara hukum, patuhi semua peraturan yang ada. Santai saja, tapi mohon do'anya agar Kiai yang kita cintai ini tetap diberikan kesembuhan dan kesabaran setelah mendapatkan musibah penganiayaan,” tutup Aang ZE.