JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur mewanti-wanti seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk menginput data peserta didik secara rinci dan objektif dalam sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Langkah tegas ini diambil mengantisipasi munculnya data siswa fiktif maupun residu mendekati tenggat cut off nasional pada 31 Agustus 2026.
Kabid SMP Disdikpora Cianjur, H. Ipan Sopandi, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pencatatan data harus persis dengan fakta di lapangan.
"Jumlah siswa yang diusulkan dan tercatat dalam Dapodik harus benar-benar sesuai dengan jumlah siswa yang ada di sekolah. Jangan sampai terdapat data siswa yang tidak ada orangnya atau data fiktif, baik yang terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja," ujar Ipan, Jumat (28/8/2026).
Guna mencegah manipulasi, Disdikpora Cianjur menekankan pentingnya verifikasi keberadaan siswa fisik di samping mengejar angka sinkronisasi.
"Yang paling penting bukan sekadar mengejar persentase sinkronisasi. Kami ingin datanya benar, objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Jumlah siswa di Dapodik harus sesuai dengan jumlah siswa yang benar-benar ada di sekolah," katanya.
Selain itu, temuan data residu akibat NIK tidak sesuai, penumpukan data ganda, hingga status mutasi yang tertunda diimbau untuk segera dirapikan.
Ipan memastikan pihaknya tidak sekadar menampung berkas digital, melainkan menerjunkan tim khusus untuk uji petik ke sekolah-sekolah.
"Disdikpora akan melaksanakan monitoring dan melakukan verifikasi langsung. Kami ingin melihat kesesuaian data Dapodik dengan siswa yang ada di lapangan," katanya. Peninjauan ini untuk mencegah terjadinya manipulasi jumlah murid demi keuntungan tertentu.
Para kepala sekolah diminta aktif mendampingi operator sekolah dan tidak menyerahkan tugas verifikasi sepenuhnya kepada staf teknis.
"Kepala sekolah harus mengawal operatornya. Pastikan satu per satu data siswa diperiksa, jumlahnya sesuai, identitasnya benar, dan tidak ada data yang fiktif maupun berpotensi residu," tegasnya.
Sekolah turut dianjurkan merampungkan sinkronisasi lebih awal: "Kami mengimbau jangan menunggu menit-menit terakhir. Kalau ada data yang bermasalah, segera diperbaiki dan dikoordinasikan dengan tim teknis Disdikpora."
Ipan berharap audit internal mandiri dapat bergulir di setiap SMP hingga batas akhir penutupan server. "Kami ingin memastikan tidak ada satu pun data siswa yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Data pendidikan harus valid, objektif dan dapat dipertanggungjawabkan," pungkas Ipan.