Kala itu, seorang lelaki tua tak dikenal kerap mengikuti langkah dakwah beliau dari kampung ke kampung. Hingga suatu hari di dekat rel kereta api Segog, Cibadak, lelaki tua tersebut mencegat Apa Lili dan menyerahkan tongkat tersebut tanpa sepatah kata pun, lalu menghilang dalam sekejap mata.
Dikisahkan, seorang Habib dari Jawa yang memiliki anugerah kasyaf pernah datang untuk meminta tongkat tersebut. Namun, Apa Lili menolaknya. Sang Habib hanya tersenyum, sebab melalui mata batinnya, ia mengetahui siapa sosok "lelaki tua" yang sebenarnya memberikan tongkat itu kepada Apa Lili.
Dalam literatur manāqib klasik seperti Tadhkirat al-Awliyā’ karya Farīduddīn ‘Aṭṭār, peristiwa semacam ini sering dikaitkan dengan kehadiran Nabi Khidir AS sebagai bentuk isyarah pertolongan Allah yang bekerja secara sunyi.
Kini, 29 tahun setelah kepergiannya, cahaya Apa Lili terus memancar secara lamat-lamat namun pasti, membimbing para santri dan pecinta menuju ridha Illahi.