Kala itu, seorang lelaki tua tak dikenal kerap mengikuti langkah dakwah beliau dari kampung ke kampung. Hingga suatu hari di dekat rel kereta api Segog, Cibadak, lelaki tua tersebut mencegat Apa Lili dan menyerahkan tongkat tersebut tanpa sepatah kata pun, lalu menghilang dalam sekejap mata.
Dikisahkan, seorang Habib dari Jawa yang memiliki anugerah kasyaf pernah datang untuk meminta tongkat tersebut. Namun, Apa Lili menolaknya. Sang Habib hanya tersenyum, sebab melalui mata batinnya, ia mengetahui siapa sosok "lelaki tua" yang sebenarnya memberikan tongkat itu kepada Apa Lili.
Dalam literatur manāqib klasik seperti Tadhkirat al-Awliyā’ karya Farīduddīn ‘Aṭṭār, peristiwa semacam ini sering dikaitkan dengan kehadiran Nabi Khidir AS sebagai bentuk isyarah pertolongan Allah yang bekerja secara sunyi.
Kini, 29 tahun setelah kepergiannya, cahaya Apa Lili terus memancar secara lamat-lamat namun pasti, membimbing para santri dan pecinta menuju ridha Illahi.
Artikel Terkait
Edukasi Ekologi Relawan GMD Ajak Siswa SDN Sambong Cianjur Lakukan Penanaman Pohon
Disdikpora Cianjur Diminta Terapkan Paradigma Pedagogi Welas Asih di Sekolah
Cari Bintang Pop Baru, SCTV Gelar Audisi The Icon Indonesia di Berbagai Kota
Indosiar Hadirkan Rangkaian D’Academy 7 Mega Konser yang Bertabur Bintang Mulai 4 Februari 2026
Serap Aspirasi di Karangtengah Cianjur, Lilis Boy Dorong Pemberdayaan Ekonomi dan Pengelolaan Sampah
FOSSBI Gelar Turnamen Under-12 Zona Cianjur, Pemenang Bakal Melaju ke Malaysia
Harga Emas Star Gold Resmi Saat Ini
Esensi Kekuasaan dan Kedewasaan Menyikapi Kritik: Catatan dari Rakornas Sentul
Membedah Diskusi Buku Demokrasi Islam Karya R.A.A. Wiranatakusumah di Cianjur
Mutiara Pagi: Perayaan Cinta (Bagian 2111)