daerah

Disdikpora Cianjur Diminta Terapkan Paradigma Pedagogi Welas Asih di Sekolah

Rabu, 4 Februari 2026 | 13:46 WIB
Disdikpora Cianjur. (Foto: Dokumentasi Radar Cianjur)

JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR - Presedium Jaringan Intelektual Muda atau JIM Cianjur, Alief Irfan, meminta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cianjur untuk memastikan sistem pendidikan di wilayah tersebut menerapkan prinsip pedagogi welas asih.

Desakan ini muncul sebagai respons terhadap tragedi kematian seorang siswa sekolah dasar akibat bunuh diri di NTT yang dinilai bukan sekadar duka keluarga, melainkan sinyal bahaya sistemik bagi dunia pendidikan di Kabupaten Cianjur.

Bahwa fenomena memprihatinkan ini memicu pertanyaan besar mengenai kondisi psikologis anak-anak saat ini. Alief mempertanyakan mengapa anak-anak yang seharusnya berada di fase bermain justru merasa hidup sebagai beban yang tidak tertahankan.

Ia menegaskan bahwa Disdikpora harus menjamin sekolah menjadi ruang aman atau safe space, mengingat saat ini banyak sekolah dasar yang terjebak dalam standardisasi akademik kaku dan terlalu fokus pada nilai kognitif hingga mengabaikan kematangan emosional siswa.

"Menurut saya kurikulum yang terlalu padat membuat anak kehilangan waktu untuk eksplorasi diri karena jadwal belajar yang mengekang," katanya, Rabu (4/2/2026).

Dia menilai pendidikan saat ini sangat mahir mengajarkan matematika dan sains, namun sering kali gagal mengajarkan resiliensi atau ketangguhan mental.

Akibatnya, anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk mengelola kegagalan serta kesulitan memproses rasa kecewa, sedih, maupun malu. Kondisi ini diperparah dengan minimnya tenaga profesional, di mana keberadaan guru Bimbingan Konseling di tingkat SD masih dianggap sebagai pelengkap atau bahkan sosok yang menakutkan bagi siswa.

Sebagai solusi, JIM Cianjur mendorong adanya revolusi paradigma melalui kurikulum kesejahteraan yang menjadikan kesehatan mental sebagai bagian inti dari pendidikan.

Lebih lanjut Alief juga menekankan pentingnya kemitraan antara orang tua dan sekolah agar tidak hanya menjadi tempat penitipan, melainkan sarana komunikasi dua arah untuk mendeteksi perubahan perilaku anak sedini mungkin.

Ia memungkasi bahwa stigma negatif harus dihapus dengan mengajarkan anak-anak bahwa meminta bantuan saat merasa sedih adalah bentuk keberanian dan bukan sebuah kelemahan.

Tags

Terkini