Journalnusantara.com, Cianjur – Infrastruktur kerap diartikan sebagai jalan, jembatan, dan gedung-gedung megah. Namun bagi seorang ahli tata ruang asal Cianjur, Dr. Raka Pradipta, infrastruktur masa depan harus didefinisikan ulang.
“Infrastruktur itu bukan hanya tentang apa yang tampak fisiknya, tapi tentang bagaimana sebuah sistem bisa menopang kehidupan masyarakat secara berkelanjutan,” tegasnya, Kamis (15/5/2025).
Menurut Dr. Raka, tantangan utama infrastruktur di Cianjur bukan hanya keterbatasan akses jalan ke wilayah pelosok atau perlunya rehabilitasi pasca-gempa, tetapi juga kurangnya ekosistem pendukung seperti digitalisasi desa, ketahanan air bersih, dan ruang publik adaptif terhadap bencana.
Ia mengusulkan pendekatan “infrastruktur hidup” konsep yang mengintegrasikan pembangunan fisik dengan budaya lokal, teknologi ramah lingkungan, dan kesiapsiagaan bencana.
Salah satu ide uniknya adalah Green Buffer Belt, yakni jalur hijau multifungsi di perbatasan zona rawan gempa yang tidak hanya meredam dampak seismik tetapi juga berfungsi sebagai taman edukasi dan pusat evakuasi warga.
“Kita ini tinggal di kawasan rawan gempa. Kalau infrastruktur hanya dipaksa modern tanpa konteks lokal, kita membangun risiko baru,” tambahnya.
Dalam hal ini lebih lanjut Dr. Raka juga menyoroti pentingnya pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari infrastruktur sosial.
“Pembangunan tidak bisa berjalan top-down terus. Infrastruktur yang tahan lama adalah yang dibangun bersama warga, bukan sekadar untuk warga,” ujarnya.
Dengan pemikiran yang menembus batas konvensional ini, Dr. Raka ingin menjadikan Cianjur sebagai model nasional kota tangguh berbasis komunitas dan lingkungan.
Menurutnya, saatnya kita memikirkan ulang infrastruktur bukan sebagai proyek, tapi sebagai investasi keberlanjutan dan identitas lokal.