daerah

Mahasiswa Cianjur Bahas Tuntas Sejarah Bangsa: Kemerdekaan Indonesia Baru De Jure

Senin, 12 Mei 2025 | 13:07 WIB
Dock Istimewa (Syahla Fauziah for Journalnusantara)

Journalnusantara.com, Cianjur – Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Cianjur, seperti STAI Al-Azhary dan STAI Al-Madina, antusias mengikuti kegiatan Follow Up Akbar Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) yang digelar pada Minggu (11/5/2025) di pelataran kampus STAI Al-Azhary Cianjur, Jalan KH. Abdullah bin Nuh. Diskusi kali ini mengangkat tema krusial: "Sejarah Negara Bangsa Indonesia".

Sahabat Nur Alim Abdul Gani, Pengurus Komisariat STAI Al-Azhary, hadir sebagai narasumber utama dalam forum tersebut. Turut hadir pula Ketua Rayon Syariah dan perwakilan dari Rayon Tarbiyah STAI Al-Azhary Cianjur.

Dalam pemaparannya, Kang Gani—sapaan akrabnya, menekankan pentingnya memahami perbedaan antara “negara” dan “bangsa”. Menurutnya, negara mencakup aspek ketatanegaraan seperti lambang Garuda, Undang-Undang Dasar, dan bahasa Indonesia, sementara bangsa merujuk pada masyarakat yang menempati wilayah tersebut, yang lebih erat kaitannya dengan kajian antropologi.

Diskusi semakin menarik ketika Kang Gani melontarkan pertanyaan provokatif: “Apakah benar bangsa Indonesia sudah merdeka?” Ia mengajak peserta menelusuri sejarah sejak kedatangan ekspedisi Cornelis de Houtman yang membawa misi 3G (Gold, Glory, Gospel), hingga berdirinya VOC yang memonopoli perdagangan dan menjalin perjanjian dengan penguasa lokal.

Ia juga mengulas keruntuhan VOC pada 1799 akibat korupsi dan perubahan politik di Belanda pasca-Revolusi Prancis. Novel Max Havelaar karya Multatuli pun disebut sebagai cerminan pahitnya masa penjajahan.

Tak ketinggalan, kebijakan Tanam Paksa (1830–1870) di bawah Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch turut menjadi sorotan, termasuk fakta tersembunyi tentang kerja rodi di era Daendels yang diduga dimanfaatkan oleh elite lokal.

Kebijakan Politik Etis yang mulai diterapkan di awal abad ke-20 juga dibahas. Meski memberi dampak terbatas dalam bidang irigasi, pendidikan, dan transmigrasi, kebijakan ini dinilai memiliki motif tersembunyi untuk memperkuat kontrol kolonial dan menyiapkan SDM bagi kepentingan penjajah. Ironisnya, dari sinilah lahir kaum intelektual pribumi yang memicu gelombang nasionalisme.

Perbedaan pandangan antara dua tokoh proklamator, Soekarno dan Tan Malaka, mengenai arti kemerdekaan juga menjadi sorotan. Soekarno memaknainya sebagai kebebasan dari penjajahan dan kemandirian di segala bidang. Sementara itu, Tan Malaka menekankan pentingnya perjuangan kolektif seluruh rakyat.

Menariknya, Kang Gani menyimpulkan bahwa kemerdekaan Indonesia saat ini baru sebatas de jure—secara hukum telah merdeka—namun belum sepenuhnya de facto, karena masih berada dalam bayang-bayang pengaruh asing.

Menanggapi pertanyaan peserta tentang kemungkinan Indonesia benar-benar lepas dari pengaruh asing, Kang Gani menyatakan bahwa di era globalisasi, ketergantungan antarnegara sulit dihindari. 

Namun, Indonesia tetap memiliki potensi untuk membangun kemandirian strategis melalui pengembangan SDM, industri dalam negeri, pengelolaan SDA yang optimal, serta penerapan politik luar negeri bebas aktif.

Diskusi hangat ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran historis dan semangat nasionalisme di kalangan mahasiswa Cianjur.

Kontributor: Syahla Fauziyah

Tags

Terkini