Journalnusantara.com - Pantai Parangtritis merupakan salah satu destinasi wisata paling ikonik di Yogyakarta.
Terletak sekitar 27 kilometer di selatan kota, pantai ini menawarkan pemandangan yang memukau dengan ombak besar, hamparan pasir hitam, serta tebing-tebing karang yang menjulang.
Tidak hanya memanjakan mata, Parangtritis juga menyimpan nilai budaya dan mistis yang kuat dalam tradisi masyarakat Jawa.
Konon, Pantai Parangtritis diyakini sebagai gerbang menuju kerajaan gaib Laut Selatan yang dipimpin oleh Nyi Roro Kidul.
Masyarakat lokal percaya bahwa mengenakan pakaian berwarna hijau di pantai ini dapat mengundang bahaya, karena warna tersebut diyakini sebagai warna kesukaan sang penguasa laut.
Mitos ini menjadi daya tarik tersendiri, menambah aura mistis yang menyelimuti pesona alam Parangtritis.
Selain mitos, pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas menarik di Parangtritis, seperti berkuda di sepanjang pantai, menyewa ATV untuk menjelajah pasir, atau sekadar menikmati matahari terbenam yang dramatis di balik cakrawala.
Terdapat juga bukit Gembirawati yang menawarkan panorama menakjubkan dari ketinggian, cocok untuk penggemar fotografi.
Pantai Parangtritis bukan hanya tempat untuk berlibur, tetapi juga ruang untuk merenung dan merasakan kekayaan budaya lokal.
Suasana yang tenang di pagi hari dan deru ombak yang terus bergulung menciptakan pengalaman yang menyentuh batin.
Bagi siapa pun yang mengunjungi Yogyakarta, Parangtritis adalah destinasi wajib yang memadukan keindahan alam, sejarah, dan spiritualitas dalam satu paket tak terlupakan.
Artikel Terkait
Pesantren Lirboyo, Benteng Ilmu dan Akhlak Ahlussunnah di Nusantara
Pulau Onrust, Jejak Sejarah Kolonial di Kepulauan Seribu
BEM PTNU Apresiasi Langkah Bareskrim Polri Bongkar Jaringan Judi Online
Bongkar Dugaan Permainan Anggaran dan Tata Kelola Desa, Aliansi Masyarakat Hegarmanah Bersikap
BEM UNISLA Gelar Entrepreneurship Class, Cetak Pengusaha Muda Kampus
Mutiara Pagi: Sang Penakluk (Bagian 1835)
Unpad Gelar Seminar Nasional Refleksi Gagasan Koperasi Bung Hatta
Kebudayaan sebagai Fondasi Identitas Bangsa dalam Perspektif Ahli Antropologi
UNSUR Cianjur Gelar Kuliah Umum Keolahragaan, Bahas Strategi Pembangunan Olahraga Daerah
Mutiara Pagi: Merawat Harapan (Bagian 1836)