daerah

Bedah Buku K.H. Ahmad Muhtadi: Seruan Pelestarian Nilai Perjuangan dan Keilmuan

Jumat, 11 April 2025 | 06:40 WIB

Journalnusantara.com. Lamongan - Sebagai bagian dari peringatan Haul ke-77 K.H. Ahmad Muhtadi, seorang ulama dan pejuang asal pesisir utara Lamongan, BP3MNU Madrasah Al Muhtadi Sendangagung bersama Ikatan Alumni Al-Muhtadi (IKADI) menyelenggarakan acara Bedah Buku dan Seminar Nasional bertajuk “Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Muhtadi: Cermin Keteladanan Ulama-Pejuang dari Pantai Utara Lamongan”.

Acara yang berlangsung di Aula Madrasah Al Muhtadi, Sendangagung, Kecamatan Paciran ini dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan.

Hadir dalam kegiatan tersebut para guru dan karyawan madrasah, pengurus badan otonom NU dari berbagai ranting, mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi seperti UNISLA, IAI TABAH, INSUD, UNISDA, komunitas sejarah, keluarga besar K.H. Ahmad Muhtadi, serta para alumni dan masyayikh Al-Muhtadi.

Tiga narasumber utama hadir dalam seminar ini, yaitu Ah. Syauqi Arif selaku penulis buku, Dr. Winarto Eka Wahyudi (Wakil Rektor III UNISLA Lamongan dan Sekretaris LPTNU PWNU Jawa Timur), dan Didin Ahmad Zaenudin, yang dikenal dengan nama pena Diaz Nawaksara, seorang aktivis Aksara Nusantara.

Dalam pemaparannya, Ah. Syauqi Arif menjelaskan bahwa buku ini merupakan karya pertama yang secara komprehensif mengulas perjalanan hidup dan perjuangan K.H. Ahmad Muhtadi. Buku ini tidak hanya memuat silsilah biologis, tetapi juga nasab keilmuan yang menjadi fondasi pemikiran sang ulama.

Sementara itu, Dr. Winarto Eka Wahyudi menekankan pentingnya metodologi dalam penulisan sejarah. Ia menyatakan bahwa buku ini telah memenuhi kriteria ilmiah dan metodologis, sehingga apa yang ditampilkan di dalamnya bukan sekadar rekaan.

“Karya ini bukan hanya sebagai karya intelektual, tetapi juga ungkapan cinta penulis yang ingin menghidupkan kembali sosok dan spirit Kiai Muhtadi dalam konteks kekinian,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Journalnusantara, Jumat (11/4/2025).

Narasumber ketiga, Didin Ahmad Zaenudin, menambahkan data sejarah penting terkait K.H. Ahmad Muhtadi, termasuk kisah wafatnya di Desa Dagan akibat ditembak pasukan Belanda. Ia juga menegaskan peran penting sang ulama sebagai rujukan spiritual laskar Hizbullah menjelang perjuangan bersenjata dalam masa Resolusi Jihad.

Sebagai moderator, Bustanul Habibi menutup acara dengan menyerukan pentingnya pelestarian khazanah keilmuan K.H. Ahmad Muhtadi. Ia mendorong agar isi buku ini dikembangkan lebih lanjut dalam bentuk artikel ilmiah dan jurnal akademik.

Buku “Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Muhtadi” kini menjadi dokumen penting yang merekam kontribusi besar beliau dalam dunia pendidikan dan perjuangan kemerdekaan.

Seminar ini menjadi momentum reflektif untuk mengusulkan agar nama besar K.H. Ahmad Muhtadi layak diabadikan sebagai nama jalan di Kabupaten Lamongan, bahkan sebagai tokoh yang pantas dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Tags

Terkini