daerah

Upacara Adat Serentaun

Senin, 29 Juli 2024 | 12:00 WIB
Upacara adat Serentaun

Oleh: Fardan

Padi dipanen ketika sudah menguning. Namun tidak sembarangan, dalam budaya Kasepuhan, ada tata cara yang harus dilakukan sebelum padi dipanen. Pertama adalah ritual kepada nenek moyang, meminta agar hasil panen melimpah dan bermanfaat.

Ritual ini dilakukan masing-masing keluarga di kediamannya, bisa di rumah atau di saung sawah (huma). Setelah ritual selesai dan hari baik sudah ditentukan, barulah padi bisa dipanen.

Padi yang sudah dipanen, tidak langsung dibawa ke rumah, melainkan dijemur terlebih dahulu di lantayan selama 30 hari. Setelah padi kering, baru padi dipikul atau ngunyal dengan bergotong royong. Saling membantu adalah tradisi warga Kasepuhan yang masih dijaga dan dipertahankan sampai sekarang.

Sebelum dimasukkan ke lumbung (leuit), ada ritual khusus yang disebut Nganyaran. Nganyaran dilakukan dengan membagi-bagikan nasi yang baru dipanen kepada tetangga dan orang sekampung. Orang lain juga melakukan hal demikian, sama-sama saling memberi.

Hal ini dilakukan agar rasa persatuan dan kesatuan tetap terjaga. Setelah ritual Nganyaran selesai dilakukan, barulah padi yang sudah dirapikan di masukan ke dalam leuit.

Bukan Kasepuhan namanya kalau tidak ada upacara adat Serentaun. Upacara adat serentaun merupakan upacara adat terbesar yang dilakukan satu tahun sekali setelah masa panen.

Serentaun bisa disebut juga ampih pare ka leuit. Hasil panen Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptamulya sebagian dikumpulkan di Lumbung Besar yang diberi nama Leuit si Jimat.

Lumbung ini digunakan untuk membantu Masyarakat Adat yang kurang mampu, apabila mereka kekurangan pangan dapat meminjam dari Leuit si Jimat

Tags

Terkini