Sanlat Masjid Agung Cianjur Jadi Oase Perbaikan Akhlak Generasi Muda

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Selasa, 3 Maret 2026 | 12:14 WIB
Sanlat Masjid Agung Cianjur. (FOTO: Harry/Journalnusantara.com)
Sanlat Masjid Agung Cianjur. (FOTO: Harry/Journalnusantara.com)

JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR — Ketua DKM Masjid Agung Kabupaten Cianjur, KH Ir. Deny Saepul Rohman, menegaskan pentingnya penyelenggaraan Pesantren Kilat (Sanlat) sebagai upaya konkret membentengi akhlak generasi muda di tengah maraknya fenomena kenakalan remaja.

Menurut KH Deny, Bupati Cianjur menyebut kegiatan ini bagaikan oase di tengah padang gurun yang gersang, mengingat pendidikan keagamaan saat ini sering kali hanya terjebak pada transfer ilmu tanpa disertai transfer akhlak yang kuat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius menyusul meningkatnya keterlibatan remaja dalam berbagai tindak kriminal, mulai dari gangguan keamanan oleh geng motor hingga kasus pidana berat seperti pembunuhan yang melibatkan pelaku di bawah usia.

KH Deny menilai fenomena ini merupakan dampak nyata dari jauhnya anak muda dari nilai-nilai agama. Melalui momentum Ramadhan, Masjid Agung Cianjur berupaya menggiring para remaja kembali ke masjid agar mereka tidak hanya menghabiskan waktu dengan aktivitas yang tidak produktif di jalanan.

Sebagai pusat pelayanan sosial dan edukasi, Masjid Agung Cianjur terus berinovasi dalam merangkul kelompok muda melalui Himpunan Anak Muda Islam Masjid Agung (Hamima).

Salah satu strategi yang diterapkan dalam Sanlat tahun ini adalah penggunaan tenaga pengajar dari kalangan remaja senior. Hal ini dilakukan agar komunikasi yang terjalin lebih efektif karena menggunakan bahasa dan frekuensi yang sama dengan para peserta.

Sebanyak 50 guru dikerahkan untuk membimbing sekitar 2.000 murid, dengan rasio per kelas sekitar 30 hingga 40 orang guna menjaga efektivitas pembelajaran.

Materi yang disampaikan dalam Sanlat ini pun dirancang secara realistis dan tidak muluk-muluk. Fokus utama pembelajaran meliputi penguatan akidah, pemahaman sifat-sifat Allah, hingga praktik ibadah fardu seperti tata cara wudhu dan shalat yang benar.

KH Deny menyadari bahwa sekolah formal terkadang memiliki keterbatasan dalam mengajarkan praktik ibadah secara langsung dan mendalam, sehingga Sanlat menjadi ruang pelengkap yang krusial bagi pendidikan karakter anak.

Bagi KH Deny, menjaga keberlangsungan pendidikan agama adalah sebuah kewajiban moral karena Islam tidak bisa diwariskan secara turun-temurun tanpa adanya proses pengajaran yang berkelanjutan.

Sebagai Ketua DKM, ia merasa bertanggung jawab untuk memastikan generasi mendatang tidak semakin asing dengan agamanya sendiri. Ia berharap setelah Ramadhan usai, para remaja ini tetap memiliki kedekatan emosional dan kemauan untuk aktif berkegiatan di lingkungan masjid.

Penyelenggaraan kegiatan ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga lembaga sosial.

KH Deny menyampaikan apresiasi kepada Bupati Cianjur, Dinas Pendidikan, Baznas Kabupaten Cianjur, serta para donatur yang telah memberikan dukungan finansial dan fasilitas.

Ke depan, ia berharap kolaborasi ini semakin luas agar Sanlat Masjid Agung dapat melibatkan lebih banyak peserta dan memberikan dampak yang lebih besar bagi masa depan generasi muda di Kota Santri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X