(Pelajaran dari Jalaluddin Rumi dan guru Shams Tabrizi)
Sebuah cerita sederhana
saat Rumi bersama gurunya
sebotol cuka yang dibawanya
sarat persepsi dan prasangka
begitu cepat mereka berteriak
sebotol cuka disangka arak
tak ada yang bertanya
tak ada yang memastikan
sehingga botol yang berisi cuka
dikira arak yang memabukkan
Pujian pun berubah jadi cacian
berasal dari sumber yang sama
namun tidak dibela dengan kemarahan
oleh Jalaluddin Rumi maupun gurunya
Karena keduanya memahami
yang melukai bukanlah kata-kata mereka
melainkan kelekatannya pada penilaian mereka
apabila hati sudah lusuh
yang jernih pun tampak keruh
mabuk oleh persepsinya sendiri
tanpa mempertimbangkan kata hati
lidah menjadi hakim yang tergesa
karena rasa dikalahkan oleh prasangka
yang dilihat bukanlah benda
melainkan isi kepala yang bicara
menyusup lewat celah curiga
menutup pintu kebeningan jiwa
padahal kebenaran setenang air sumur
tak berteriak seperti daun di musim gugur
tetap tenang ketika reputasi diserang
membiarkan tuduhan tanpa perlu meradang
Malang, 3 Maret 2026
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Perkuat Persatuan dan Kesatuan Bangsa Lewat Kebijakan
Sinergi Tokoh dan Masyarakat Cianjur dalam Aksi Berbagi Takjil Peduli Ramadan
Hj Margaret Aliyatul Berpulang, MA IPNU Cianjur Sampaikan Bela Sungkawa
Silaturahmi Ramadan, Paguyuban Mojang Jajaka Jawa Barat Gelar Moka Asih 2026 di Bandung
PMII Cianjur Kecam Dugaan Kekerasan Oknum Brimob, Tegaskan Keadilan Sosial Aswaja
Gelar Seminar "Ramadhan Terang Mudik Tenang", Ida Fauziyah & PLN Edukasi Warga Jakarta Cegah Kebakaran Saat Mudik
Gelar Ajang Bergengsi di Jakarta, Grand Runway Indonesia 2026 Cari Duta Wastra Nusantara
Mutiara Pagi: Belajar Menimbang Kata (Bagian 2136)
Mengatasi Pusing yang Mengganggu
Pendaftaran Grand Model Indonesia 2026 Resmi Dibuka, Yuk Gabung!