“Pemberdayaan perempuan adalah proses menuju kemandirian dan kesadaran terhadap peran penting perempuan. Namun, tantangan terbesar yang kita hadapi saat ini adalah budaya patriarki dan minimnya dukungan masyarakat terhadap perempuan,” jelasnya.
Dalam diskusi yang berlangsung, peserta sepakat bahwa kesetaraan gender berarti memberikan hak dan kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan.
“Sebagai intelektual muda NU, kita harus berperan aktif dalam menciptakan keadilan gender di semua aspek kehidupan,” tambah Winda.
Diskusi ini diharapkan mampu mendorong perempuan muda NU untuk menjadi agen perubahan, memperjuangkan hak-hak mereka, dan mewujudkan keadilan gender di masyarakat.
“Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ruang aman dan mendukung perempuan dalam berkarya,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Strategi Keseimbangan dalam Merancang Prestasi dan Merespon Aksi
Heboh, Penemuan Batu Bertulis di Kaki Gunung Galunggung: Antara Fenomena dan Fakta
Melihat Stasiun Gombong di Kebumen
Pemberontakan Trunojoyo terhadap Mataram
GP Ansor dan Karang Taruna Maleber Gelar Kajian, Kader Diminta Pelototi Program Desa
Mutiara pagi: Nahkoda Kehidupan (Bagian 1724)
PMII STISNU Cianjur Gelar Raker dan Talkshow: Membangun Kader Profesional dan Humanis
Mendung: Benarkah Isyarat Hujan Akan Segera Turun?
Terima Jurnalis Santri, KH Maruf Amin Bicara Pentingnya Menghadapi Era Post Truth
Mutiara pagi: Tentang Kehidupan (Bagian 1725)