opini

Kado Satu Abad NU, Jadilah Lebih Berkontribusi Nyata Bagi NU dan NKRI

Senin, 6 Februari 2023 | 09:42 WIB
Kado Satu Abad NU, Jadilah Lebih Berkontribusi Nyata Bagi NU dan NKRI (Instagram @nugresik)

Ulama seperti Gus Dur, Gus Mus, Gus Muwafik, Gus Miftah, Gus Baha, Gus Yahya (Ketum PBNU), Kiai Anwar Zaid dan lain-lain tidak akan terlahir setiap 50 tahun sekali. Akan sangat sulit menemukan ulama-ulama NU dengan karakter dan kekhasan seperti yang beliau-beliau miliki.

Menjelang satu abad NU pada 16 Rajab 1444 H atau 7 Februari 2023 mendatang, Kiai Said Agil Siradj juga berpesan kepada anak muda NU agar tetap berpegang teguh pada prinsip moderat dan toleran. Dengan demikian anak-anak muda NU tidak akan mudah terseret dalam cara berfikir yang kaku.

"Generasi muda NU, bagaimanapun, alumni mana pun, harus tetap berpegang pada prinsip tawassul dan tasawuf, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menyucikan jiwa agar yang tercermin adalah akhlak yang karimah.

Moderat dalam hal apapun. Jangan sampai terdorong untuk berfikir liberal," papar Kiai Said yang tayang di youTube NU online. Kiai Said juga berpesan kepada kiai-kiai NU agar terus mendorong pendidikan nasional sehingga generasi NU mampu menghadapi era globalisasi.

"Memang itu berat, tapi tetap harus NU hadapi. Jadi pesantren didorong agar lebih terbuka, maju, memberi ruang kepada para santri yang intelektual dan berfikir bebas, tetapi tetap dalam pengawasan kiai agar tidak berfikir liberal dan mencintai NKRI.

Baca Juga: Nikah Gratis di KUA, Berikut Syarat dan Ketentuannya

Jadi warga NU yang kaffah dan cinta NKRI harus diterapkan kepada warga Nahdliyin untuk kado satu abad NU. Jadilah lebih berkontribusi nyata bagi NU dan NKRI, diantaranya :

1. Memiliki pola pikir dan sikap (fikroh) yang tawasuth, tegak lurus, dan tasamuh. Tawasuth atau memiliki sikap di tengah-tengah tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri. Tegak lurus dengan PBNU dan tasamuh atau sikap toleransi antar umat beragama dan penganut kepercayaan.

2. Jam"iyyah yaitu mengikuti organisasi yang tersebar dalam organisasi NU, atau mengikuti pengajian-pengajian dan amalan-amalan NU yang dibimbing oleh poro alim ulama dan kiai-kiai NU.

3. Memiliki ghirah atau semangat juang mewujudkan perjuangan NU dalam menjaga Agama Islam rahmatan lil alamin dan memperjuangkan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semua itu sesuai dengan keinginan simbah KH. Hasyim Asy'ari agar warga NU ikut menyumbangkan fikirannya, termasuk berpolitik, menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk berdakwah (mengajar), juga ikut merukunkan umat Islam dan umat lainnya di Indonesia ini.

Tidak harus punya gelar sarjana, master, doktor atau profesor, kiai, bu nyai atau santri lulusan pondok pesantren untuk bisa berkhidmat untuk NU. Tapi jadilah warga nahdliyin yang biasa atau kiai kampung yang justru terus memberi kontribusi nyata bagi NU di masyarakat. Memiliki jiwa nasionalisme dan cinta tanah air yang tinggi. Patuh pada kiai, dan terus melaksanakan amaliyah ajaran aswaja an-nahdliyah. Insya Allah kelak akan diakui santrinya simbah KH. Hasyim Asy'ari dan masuk surga bersama beliau, dengan mendapat syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW. aamiin aamiin aamiin YRA.

Baca Juga: Masya Allah, Diam-Diam Ivan Gunawan Bangun Masjid di Uganda Afrika Timur, Biaya dari Kocek Pribadi

Nurul Azizah, penulis buku 'Muslimat NU di Sarang Wahabi'

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB