Berbeda halnya dengan identitas pribumi muslim di Hindia Belanda yang disuarakan Central Sarekat Islam dengan kehendak zelfbestuur-nya atau kehendak berpemerintahan sendiri. Ada ikatan ISLAM yang bersifat global-internasional yang menjadi komitmen nilai perjuangan dan kemerdekaan sebagai sebuah ‘natie’, sebagaimana dijelaskan Tjokroaminoto dalam pidatonya.
Kenyatan ini diakui oleh Dr. Douwes Dekker, yang menyatakan “Dalam banyak hal, Islam merupakan nasionalisme di Indonesia dan jika seandainya tidak ada faktor Islam di sini, sudah lama nasionalisme yang sebenar-benarnya (tulen) hilang lenyap.”***