opini

Mengenal Allah: Kunci Kebahagiaan

Sabtu, 18 Maret 2023 | 07:12 WIB
Mengenal Allah: Kunci Kebahagiaan oleh: Nanang Gojali

Ada lagi sebuah contoh yang sudah umum tentang pengacuan kepada sebab-sebab kedua, apa-apa yang seharusnya merupakan sebab pertama, yaitu dalam persoalan apa yang disebut sebagai penyakit.

Baca Juga: Satu Persen APBN Untuk Diplomasi Budaya

Misalnya, jika seseorang kehilangan rasa tertariknya pada urusan duniawi, memiliki rasa benci terhadap kesenangan-kesenangan umum, dan tampak tenggelam dalam depresi, dokter akan berkata: "Ini adalah kasus melankoli yang membutuhkan resep ini dan itu."

Seorang ahli fisika akan berkata: "Ini adalah persoalan kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak bisa disembuhkan sampai udara menjadi lembab kembali." Ahli astrologi akan mengaitkan hal ini dengan konjungsi atau oposisi tertentu planet-planet. Sejauh jangkauan kebijakan mereka, "itulah kadar ilmu mereka"2)

Tidak terbayangkan oleh mereka bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah, bahwa Yang Maha Kuasa berkehendak mengurus kesejahteraan orang itu, dan oleh karenanya telah memerintahkan hamba-hambaNya, yakni planet-planet atau unsur-unsurnya, agar menciptakan keadaan seperti itu di dalam diri orang tersebut, sehingga ia bisa berpaling dari dunia ke arah Penciptanya.

Pengetahuan tentang kenyataan ini merupakan suatu mutiara yang berkilauan dari lautan pengetahuan keilhaman, yang dibandingkan dengannya, semua bentuk pengetahuan lain menjadi bagaikan pulau-pulau di tengah laut.

Dokter, ahli fisika dan ahli astrologi dalam hal ini, tak syak lagi memang benar dalam cabang pengetahuan-khususnya masing-masing, tetapi mereka tidak bisa melihat bahwa penyakit itu adalah, katakanlah, suatu tali cinta yang digunakan oleh Allah untuk menarik orang tersebut agar mendekat kepadaNya.

Catatan-catatan di atas memungkinkan kita memasuki lebih dalam makna seruan-seruan yang melekat di bibir orang-orang mukmin: "Subhanallah, Alhamdulillah, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar."

Mengenai yang terakhir, kita bisa berkata bahwa hal itu tidaklah berarti bahwa Allah lebih besar dari penciptaan, karena penciptaan adalah pengejawantahanNya, sebagaimana cahaya adalah pengejawantahan matahari. Dan akan tidak benar kalau dikatakan bahwa matahari lebih besar dari cahayanya sendiri.

Hal itu lebih berarti bahwa kebesaran Allah sama sekali melampaui kemampuan kognitif, dan bahwa kita hanya bisa membentuk suatu gagasan yang amat kabur dan tidak sempurna tentangNya.

Jika seorang anak meminta kita untuk menerangkan padanya kesenangan-kesenang an yang ada di dalam pemilikan kedaulatan, kita bisa berkata bahwa hal itu adalah seperti kesenangan yang ia rasakan di dalam bermain-main dengan alat pemukul dan bola, meskipun pada hakikatnya keduanya tidak memiliki sesuatu yang sama kecuali bahwa keduanya termasuk ke dalam kategori kesenangan.

Jadi, seruan Allahu Akbar berarti bahwa kebesaranNya jauh melampaui kemampuan pemahaman kita. Lagi pula, pengetahuan tentang Allah yang tidak sempurna seperti itu sebagaimana yang bisa kita peroleh - bukanlah sekadar suatu pengetahuan spekulatif belaka, tetapi mesti dibarengi dengan penyerahan dan ibadah.

Baca Juga: KPAI dan KPAID Cianjur Komitmen Bantu Pemulihan Pasca Gempa

Jika seseorang meninggal dunia, dia berurusan hanya dengan Allah saja. Dan jika kita harus hidup bersama seseorang, kebahagiaan kita sama sekali tergantung pada tingkat kecintaan yang kita rasakan kepadanya.

Cinta adalah benih kebahagiaan, dan cinta kepada Allah ditumbuhkan dan dikembangkan oleh ibadah. Ibadah dan zikir yang terus-menerus seperti itu mengisyaratkan suatu tingkat tertentu dari keprihatinan dan pengekangan nafsu-nafsu badaniah.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB