opini

Satu Persen APBN Untuk Diplomasi Budaya

Jumat, 17 Maret 2023 | 22:20 WIB
Ilustrasi budaya

“Ini bukan hal mustahil mengingat Minangkabau kaya potensi,” kata Denny.

Ia merujuk pada riset 50 makanan dunia paling popular yang digelar oleh CNN pada tahun 2017 lalu. Audiens yang diriset berasal dari berbagai belahan dunia dan makanan yang diriset pun beragam, mulai dari sushi dan ramen dari Jepang, tom yam dari Thailand, pecking duck dari Cina dan juga hamburger dan steak dari Amerika Serikat.

“Hasilnya menyentak kita. nomor satu yang populer adalah rendang dari Indonesia. Lebih tepatnya, rendang dari Minangkabau,” sambung Denny.

Telebih, jika membaca sejarahnya, rendang sudah dikenal sejak abad ke-16. Atau sekitar 500 tahun lalu, para pedagang dan pelayar seringkali membawa rendang karena merupakan makanan yang awet.

“Kita berdecak kagum dengan karya seni nenek moyang kita di Sumatra Barat. Bagi kita kuliner itu juga bentuk seni; seni di bidang makanan,” tambahnya.

Baca Juga: Spirit Guru Bangsa: Cak Nur, Gus Dur, dan Buya Syafi’i dalam Aspek Bernegara Masa Kini

Lalu pada tahun 2021, CNN kembali membuat riset 50 makanan populer dunia. Meski tidak lagi menempati posisi nomor satu, namun rendang tetap masuk top-11 makanan popular di dunia.

“Tentu ketika kita ingin membangkitkan kultur Minangkabau, banyak lagi elemen kultur lainnya di Minangkau,” terangnya.

“Memberdayakan budaya Minangkabau, itu tak berarti kita menghidup- hidupkan budaya lama. Tapi kita memperbaharuinya, memberi nafas baru, memberi spirit baru agar karya budaya itu sesuai dengan zaman baru,” sambung Denny.

Hal itu berarti, kita mempopulerkan kembali warisan budaya lokal kita dengan teknologi tinggi dan mindset masa kini.

“Setelah produk budayanya kita bangkitkan dengan spirit baru, bagaimana kita mempopulerkan budaya itu ke tingkat dunia?

Ini juga hukum besi sejarah. Tak ada produk budaya di era ini yang bisa populer sendiri secara alamiah. Tak ada produk budaya yang bisa populer sendiri secara apa adanya,” jelas Denny.

“Semua perlu dimarketingkan: semua perlu dikemas dan dimobilisasi,” sambungnya.

Menurutnya, kita bisa belajar dari strategi budaya Korea Selatan yang kini menonjol di tingkat dunia.

Di dunia musik, Korea Selatan diwakili oleh boyband BTS yang dianggap sebagai The Beatles masa kini. Kemanapun mereka pentas, mereka melahirkan histeria massa.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB