Diantar dengan sosiologi, kita diajak untuk menyelidiki causa prima (sebab pertama atau akar penyebab) dari berbagai ketimpangan ini. Sosiologi menelanjangi ketidakadilan dengan memberikan kita data empiris yang bersifat a posteriori (pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman dan observasi), menstimulasi nalar kritis kita untuk mempertanyakan mengapa kemiskinan struktural terjadi, mengapa diskriminasi dilembagakan, dan bagaimana relasi kuasa bekerja di balik layar. Dengan mengungkap hal-hal yang tersembunyi (latent) dari fenomena yang tampak (manifest), sosiologi mengundang kita untuk tidak bersikap apatis terhadap penderitaan sesama.
Menggugah Kesadaran: Sapere Aude!
Pada akhirnya, apa hasil akhir dari perjalanan kita saat diantar oleh sosiologi? Kajian ini tidak ditujukan untuk sekadar menghasilkan sarjana yang pandai berteori di menara gading. Pendidikan sosiologis pada hakikatnya adalah sebuah panggilan emansipatoris. Sosiologi membekali kita dengan "Imajinasi Sosiologis" (sebagaimana diistilahkan oleh C. Wright Mills), yakni kemampuan untuk melihat benang merah antara masalah pribadi (personal troubles) dengan isu-isu struktural publik (public issues).
Dengan kemampuan analitis ini, sosiologi menyerukan semangat pencerahan yang pernah digelorakan oleh Immanuel Kant: Sapere aude! (Beranilah menggunakan akal budimu sendiri!). Memahami sosiologi berarti memberanikan diri untuk meruntuhkan prasangka, membebaskan diri dari dogma-dogma yang mengekang, dan menumbuhkan empati yang radikal terhadap kelompok-kelompok marginal.
Penerapan ilmu sosiologi selalu ditujukan secara pro bono publico (demi kepentingan dan kebaikan publik). Ketika kita menyadari bahwa realitas sosial adalah hasil konstruksi manusia, kita juga akan menyadari bahwa realitas tersebut dapat didekonstruksi dan dibangun ulang menjadi sesuatu yang lebih adil dan humanis. Menjadi manusia paripurna bukanlah tentang bagaimana kita menaklukkan alam semesta sendirian, melainkan bagaimana kita mampu merajut makna hidup dalam kebersamaan, memperbaiki keretakan sosial, dan berjalan bergandengan tangan. Diantar sosiologi, perjalanan kita memahami masyarakat mungkin dipenuhi oleh berbagai rintangan analitis dan kenyataan-kenyataan sosial yang pahit.
Namun, layaknya semboyan klasik yang berbunyi ad astra per aspera (menuju bintang-bintang melalui jerih payah dan kesulitan), pemahaman yang mendalam tentang ilmu bermasyarakat ini akan mengantarkan umat manusia menuju peradaban yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga luhur secara moral dan kultural. Itulah kado terbesar dari sosiologi bagi akal budi manusia.
Daftar Pustaka :
Berger, Peter L., dan Thomas Luckmann. (1966). The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge. New York: Anchor Books.
(Referensi untuk konsep realitas sosial sebagai hasil konstruksi manusia).
Durkheim, Émile. (1982). The Rules of Sociological Method. (Terj. W.D. Halls). New York: Free Press.
(Referensi utama untuk konsepsi masyarakat sebagai realitas sui generis dan fakta sosial yang bersifat eksternal serta memaksa).
Durkheim, Émile. (1997). The Division of Labor in Society. (Terj. W.D. Halls). New York: Free Press.
(Referensi untuk konsep transisi solidaritas mekanis menuju organis dan kondisi anomie).
Giddens, Anthony. (1984). The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration. Cambridge: Polity Press.
(Referensi untuk analisis dialektika antara struktur sosial dan agensi individu).
Hobbes, Thomas. (1991). Leviathan. Cambridge: Cambridge University Press.
(Referensi filosofis terkait pandangan pesimistis keadaan alamiah manusia atau homo homini lupus).
Johnson, Doyle Paul. (1986). Teori Sosiologi Klasik dan Modern. (Terj. Robert M.Z. Lawang). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(Referensi pengantar komprehensif mengenai patologi sosial dan pemikiran tokoh-tokoh sosiologi klasik).
Locke, John. (1997). An Essay Concerning Human Understanding. London: Penguin Books.
(Referensi filosofis mengenai epistemologi kesadaran manusia sebagai tabula rasa).
Mills, C. Wright. (1959). The Sociological Imagination. New York: Oxford University Press.
(Referensi utama untuk konsep Imajinasi Sosiologis; kemampuan menghubungkan masalah personal dengan isu struktural publik).