JOURNALNUSANTARA.COM - Rezeki tidak pernah salah alamat. Ia tidak akan bertambah hanya karena ditempuh dengan cara haram, dan tidak akan berkurang hanya karena kita memilih jalan halal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَأَجَلَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ
“Sesungguhnya Ruhul Qudus membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidaklah satu jiwa akan mati sampai ia menyempurnakan rezeki dan ajalnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah cara yang baik dalam mencari rezeki.” (HR. Ibnu Majah)
Lalu mengapa kita masih gelisah? Mengapa shalat ditinggalkan, riba dihalalkan, kezaliman dianggap wajar, hanya demi sedikit kenikmatan dunia? Apakah karena makanan lezat, rumah megah, kendaraan mewah, atau popularitas sesaat?
Dunia ini singkat. Rata-rata usia hanya 60–80 tahun. Namun hisab di akhirat tak berbatas waktu. Akan ada sakaratul maut yang menyakitkan, kubur yang sempit, padang mahsyar yang terik, hisab yang panjang, hingga jembatan shirath yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang.
Apakah pantas kenikmatan sementara ditukar dengan penyesalan abadi?
Marilah kita bertawakal dengan benar. Yakin bahwa yang halal itu cukup dan penuh berkah. Jangan gadaikan akhirat hanya demi dunia yang pasti kita tinggalkan.
Semoga Allah mencukupi kita dengan yang halal, mengampuni dosa-dosa kita, dan menetapkan hati kita di atas jalan yang Dia ridhai.