Oleh: Adillah Zulaika Zerlinda (Mahasiwa Magister Universitas Bakrie)
Secara etimologi, istilah self-reward berasal dari bahasa Inggris yang berarti “hadiah untuk diri sendiri”. Singkatnya, ini adalah cara kita memanjakan atau mengapresiasi diri sendiri sebagai bentuk rasa terima kasih atas kerja keras yang sudah dilewati.
Dalam lanskap budaya populer kontemporer, istilah self reward telah mengalami evolusi makna yang signifikan. Awalnya, konsep ini hanya dipahami sebagai bentuk penghargaan kecil atas pencapaian tertentu, namun kini ia telah bergeser menjadi sebuah “ritual wajib” yang menyertai setiap dinamika emosional individu. Lelah sedikit karena pekerjaan? Self Reward. Berhasil menyelesaikan tugas? Self Reward.
Fenomena ini menciptakan paradoks di mana garis batas antara perawatan diri (self care) dan pemuasan impuls konsumtif menjadi semakin kabur.
Namun, di balik estetika bungkusan hadiah dan secangkir kopi mahal yang kerap dipamerkan di media sosial, muncul pertanyaan krusial.
Apakah kita benar-benar sedang menghargai jerih payah diri, atau justru terjebak dalam labirin hasrat yang tak pernah tuntas? Tren ini sering kali menjadi kedok bagi perilaku boros yang tidak sehat.
Mengutip dari laman berita Kompas, fenomena ini kerap disebut sebagai revenge spending atau pengeluaran balas dendam. Lebih jauh lagi, media Kompasiana menyoroti bagaimana algoritme media sosial diprogram untuk mengoptimalkan keterlibatan pengguna dengan memberikan pengguna konten paling relevan dan paling menarik berdasarkan preferensi individual mereka.
Namun, kebiasan ketergantungan dari algoritme tersebut cenderung menciptakan bias informasi. Dalam kacamata psikoanalisis, ritual ini menyerupai upaya mengisi lubang hasrat yang sejatinya bersifat tak terbatas, sebuah objek pencapaian hanya memicu keinginan akan objek berikutnya yang lebih mahal.
Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk membedah apakah keinginan membeli sesuatu benar-benar merupakan bentuk perawatan diri atau sekadar pelarian impulsif dari realitas yang menyesakkan.
Kesadaran kritis berperan sebagai filter untuk membedakan antara kebutuhan jiwa yang tulus dengan manipulasi hasrat yang dikontruksi oleh narasi pasar. Jika kita terus memberikan “hadiah” kepada diri sendiri tanpa memahami sumber stres yang mendasarinya, kita sebenarnya sedang melanggengkan siklus keterasingan.
Kita menjadi terasing dari diri sendiri karena menggantungkan validasi internal pada objek eksternal. Dalam perspektif yang lebih luas, ketergantungan pada objek eksternal sebagai sumber validasi menciptakan sebuah paradoks eksistensial di mana subjek semakin kehilangan otonomi atas dirinya sendiri. Komoditas yang semula dianggap sebagai sarana pembebasan atau self-reward justru berubah menjadi belenggu yang mengikat individu dalam tatanan imajiner yang semu.
Tanpa adanya refleksi mendalam, individu akan terus terjebak dalam apa yang disebut sebagai fetisisme komoditas, di mana hubungan antarmanusia digantikan oleh hubungan antara manusia dan benda.
Upaya membedah motif di balik setiap transaksi belanja bukan sekadar tindakan penghematan finansial, melainkan sebuah perjuangan intelektual untuk merebut kembali ruang kesadaran dari gempuran stimulasi pasar.
Dengan mengidentifikasi akar dari kegelisahan batin, kita tidak lagi memerlukan "pelarian material" untuk merasa tenang, melainkan mampu menghadapi realitas dengan integritas pribadi yang lebih kokoh.
Membedah Self Reward Melalui Kacamata Lacan