Bukan sebagai penyelamat, tetapi sebagai pelayan rakyat, bukan sebagai pemilik kekuasaan, tetapi sebagai pengembali kepada yang berhak.
Allah menutup kegelisahan ini dengan kalimat penghiburan yang tak pernah basi:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
“Tuhanmu tidak pernah lupa.” (QS. Maryam: 64)
Maka selama rakyat tidak melupakan negaranya, dan pemimpin tidak melupakan rakyatnya, demokrasi akan menemukan jalannya kembali. Ia akan bangkit perlahan, seperti fajar yang muncul setelah malam yang panjang.
Dan ketika cahaya itu menyala, oligarki betapapun kuat, tidak akan mampu bertahan.