Rakyat tidak menuntut keajaiban. Mereka menuntut keberanian. Sebab hanya keberanian politik yang dapat mematahkan lingkar kekuasaan gelap yang selama ini tak tersentuh.
Sayyidina Umar ra. pernah berkata dengan ketegasan yang seakan ditujukan untuk zaman ini:
لَا خَيْرَ فِيكُمْ إِنْ لَمْ تَقُولُوهَا، وَلَا خَيْرَ فِينَا إِنْ لَمْ نَسْمَعْهَا
“Tidak ada kebaikan pada kalian jika kalian tidak menegur kami, dan tidak ada kebaikan pada kami jika kami tidak mendengarnya.”
Inilah ruh demokrasi, pemimpin yang mau mendengar dan rakyat yang berani menyuarakan. Tanpa keduanya, kedaulatan hanyalah mitos.
Allah pun memberi rumus perubahan sosial yang sangat dasar:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. ar-Ra‘d: 11)
Perubahan tidak lahir dari keluhan, bukan dari survei, bukan dari orasi di televisi. Perubahan lahir dari keberanian moral rakyat dan keberpihakan nyata pemimpin.
Jika rakyat menjadi penjaga moral terakhir bangsa, dan Prabowo memilih berdiri di sisi rakyat, maka oligarki akan kehilangan tahtanya. Bahkan struktur kekuasaan yang paling kokoh pun akan goyah bila kebenaran berdiri tegak di hadapannya.
Sebab Allah telah berjanji:
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang bertakwa.” (QS. al-Qaṣaṣ: 83)
Pada akhirnya, setelah perjalanan panjang menelusuri gelapnya lorong kekuasaan, kita memahami bahwa demokrasi Indonesia belum mati. Ia hanya sedang ditidurkan. Ia menunggu tangan siapa yang akan membangunkannya, menunggu keberanian siapa yang akan menyalakan kembali cahaya rakyat.
Dan rakyat menyebut satu nama dalam doa dan harapannya: Prabowo Subianto.