Namun dalam seluruh gelap itu, penderita paling sunyi bukan negara, melainkan rakyat. Pemilik sah republik.
Mereka yang hadir dalam pemilu, tetapi hilang dalam pengambilan keputusan. Mereka yang suaranya dipinjam lima tahun sekali, tetapi hidupnya diabaikan lima tahun berikutnya.
Allah menegaskan bahwa setiap manusia kelak akan ditanya atas amanah sosialnya:
وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ
“Tahan mereka, sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. aṣ-Ṣāffāt : 24)
Ayat ini bukan hanya untuk para pemimpin, tetapi juga untuk rakyat, sebab rakyat pun akan ditanya, apakah mereka membiarkan kezaliman tumbuh, oligarki berkuasa, dan demokrasi dirampas tanpa perlawanan?
Namun bangsa ini belum mati. Bara kecil selalu tersisa di dada rakyat, dan bara itu bisa menyala bila disentuh kepemimpinan yang benar.
Di tengah kegelapan itulah rakyat menaruh harapan besar kepada Presiden Prabowo Subianto, sebagai sosok yang dianggap selesai dengan dirinya sendiri sehingga akan fokus kepada rakyat dan bangsa ini.
Harapan itu bukan karena beliau sempurna, tidak ada manusia yang sempurna. Harapan itu tumbuh karena bangsa ini membutuhkan seorang pemimpin yang cukup kuat untuk menantang oligarki, cukup matang untuk merawat demokrasi, dan cukup jujur untuk mengembalikan kedaulatan kepada pemilik sahnya, yakni rakyat Indonesia.
Bukan kultus individu, bukan romantisme politik, tetapi kebutuhan sosiologis yang lahir dari luka panjang republik ini. Rakyat berharap Prabowo menjadi presiden pertama dalam dua dekade terakhir yang berani memutus mata rantai politik simbolik dan mengantarkan bangsa menuju demokrasi substantif.
Rasulullah SAW. pernah mengingatkan bahwa perubahan besar kadang datang dari tangan yang tidak kita duga:
إِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ الدِّينَ بِالرَّجُلِ غَيْرِ الصَّالِحِ
“Allah dapat menolong agama melalui seseorang yang tidak sempurna.” (HR. Muslim)
Jika agama saja bisa ditolong melalui sosok apa pun, maka republik pun demikian. Dan rakyat berharap, melalui kepemimpinan Prabowo, demokrasi yang lama ditidurkan oleh kepentingan segelintir orang dapat dibangunkan kembali.
Harapan rakyat itu sederhana namun tegas, yakni kembalikan demokrasi kepada pemilik sahnya. Kembalikan negara kepada rakyat. Kembalikan kedaulatan kepada suara terbanyak, bukan suara terkuat.