Journalnusantara.com - Selama ini masjid kerap dipandang hanya sebagai pusat ritual keagamaan, tempat umat Islam menunaikan salat lima waktu. Namun, kini peran masjid telah bertransformasi secara signifikan, melampaui kubah dan menaranya.
Masjid-masjid mulai menjelma menjadi Pusat Kemanusiaan (Humanitarian Hub) dan penggerak aksi nyata yang berdampak langsung pada aksi sosial dan kelestarian lingkungan.
Perubahan peran ini terwujud dalam berbagai program pemberdayaan sosial. Banyak masjid yang tidak hanya mengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS), tetapi juga mendistribusikannya secara strategis.
Program-program unggulan seperti santunan untuk yatim-piatu dan dhuafa, penyediaan bantuan, dan lainnya kini kian jamak ditemukan. Masjid menjadi jangkar harapan ekonomi bagi masyarakat kurang mampu di sekitarnya.
Selain itu, semangat kepedulian juga merambah isu lingkungan. Masjid kini tampil sebagai pionir dalam gerakan green movement yang menunjukkan komitmen pada keberlanjutan.
Transformasi peran ini tidak bisa berjalan sendiri. Kunci suksesnya adalah sinergi antar-elemen masyarakat. Masjid menjadi melting pot tempat berkumpulnya berbagai pihak.
Lihat saja misalnya kolaborasi antara masjid dengan organisasi non-profit lokal dalam penyaluran donasi bencana, atau kemitraan dengan turut aktif dalam kegiatan bersih-bersih lingkungan masjid.
Melalui sinergi ini, masjid telah membuktikan bukan lagi institusi pasif. Ia adalah penggerak aktif yang mampu mengorganisir dan memobilisasi energi positif umat, mengubah kepedulian spiritual menjadi aksi nyata yang membawa kemaslahatan, baik bagi individu maupun bumi yang kita tinggali.
Oleh: Tim Media DKM Al-Muhajirin, Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur