opini

Refleksi Saeculum Obscurum Abad 10 di Eropa dengan Keadaan Indonesia Sekarang

Jumat, 12 September 2025 | 06:15 WIB
YUS DHARMAN, SH., MM., M.Kn Advokat / Ketua Dewas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)

Jakarta, 12 September 2024

Oleh: YUS DHARMAN, SH., MM., M.Kn
Advokat / Ketua Dewas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)

Saeculum Obscurum, secara metaforis menggambarkan periode dalam masyarakat yang ditandai dengan ketidakpastian, kekacauan, dan kemunduran.

Dalam sejarah abad ke-10, para Paus dipengaruhi bahkan dikendalikan oleh keluarga aristokrat Romawi yang berkuasa dan korup, yaitu Theophylacti.

Masa ini juga dikenal sebagai Pornokrasi atau Pemerintahan Para Pelacur, dan dianggap sebagai salah satu titik terendah dalam sejarah Eropa.

Selama periode tersebut, banyak pencapaian ilmu pengetahuan, ekonomi, dan budaya kuno hilang atau dilupakan. Akibatnya, masyarakat Eropa mengalami kemunduran dalam berbagai bidang.

Keluarga Theophylacti mengendalikan kekuasaan, termasuk pemilihan Paus. Syarat naik takhta bukanlah kesalehan, melainkan rekayasa politik dan patronase keluarga.

Para sejarawan kemudian menyebut masa itu sebagai zaman gelap karena merosotnya moral serta hilangnya wibawa kepausan.

Jika dibandingkan, kondisi ini memiliki kemiripan dengan keadaan Indonesia saat ini. Dinasti politik di Indonesia menunjukkan adanya keluarga tertentu yang menguasai jabatan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dominasi ini lebih ditentukan oleh loyalitas politik daripada kompetensi.

Krisis kepercayaan publik juga melanda aparat penegak hukum (KPK, kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan). Kasus korupsi, manipulasi hukum, hingga politisasi kekuasaan memperkuat persepsi adanya figur tidak resmi namun berpengaruh besar di balik struktur formal negara.

Meski berbeda konteks Eropa kala itu monarki religius sedangkan Indonesia republik demokratis pola yang muncul serupa.

Jika Saeculum Obscurum memicu reformasi gereja melalui gerakan Cluny dan Otto I, maka Indonesia berpotensi mengalami “reformasi baru” sebagai respons atas krisis legitimasi dan moral.

Refleksi utamanya: konsentrasi kekuasaan pada satu keluarga atau kelompok kecil selalu menimbulkan kemerosotan moral, krisis legitimasi, serta perlawanan rakyat.

Indonesia bisa masuk ke “zaman gelap” bila membiarkan pola ini berlanjut. Jalan keluarnya adalah reformasi struktural sekaligus moral agar demokrasi tetap bernilai.

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB