OLEH: SAID MUNIRUDDIN
Bismillahirrahmanirrahim.
Dalam pandangan Said Muniruddin, fikih mazhab Sunni tampak dirancang untuk mendukung para pemimpin dan pejabat. Menurutnya, hadis-hadis yang dominan dan dicatat dalam kitab-kitab hadis adalah yang berfokus pada cara mengatur, mengontrol, dan menghukum masyarakat, termasuk urusan perempuan, namun sangat minim hadis yang mengevaluasi atau menghakimi pemimpin.
Penulis berargumen bahwa jika ada ahli hadis yang berani mengumpulkan hadis-hadis kritis terhadap penguasa, kemungkinan besar mereka akan dihukum atau bahkan dibunuh. Itulah sebabnya, kitab-kitab hadis sebagian besar berisi bab-bab tentang ibadah sehari-hari dan cara menghukum perilaku masyarakat, karena konten semacam ini menguntungkan penguasa untuk mengontrol massa. Hal ini juga yang membuat pengajian sehari-hari kita lebih banyak membahas fikih ibadah.
Padahal, menurut Said Muniruddin, Nabi Muhammad SAW menghabiskan sebagian besar hidupnya berjihad melawan kekuasaan yang zalim dan pemimpin yang menindas. Namun, hadis-hadis tentang jihad, perlawanan, dan penegakan amar makruf nahi munkar yang radikal jarang ditemukan dalam kitab atau khutbah. Penulis mencontohkan khutbah Jumat Nabi yang seharusnya berisi pesan tajam tentang jihad, keadilan, dan kebajikan, namun catatannya tidak pernah ditemukan secara detail.
Akibatnya, mazhab Sunni dianggap "impoten" dalam menghadapi isu-isu besar seperti penindasan rakyat Palestina, karena tidak memiliki hadis yang cukup kuat untuk menentang pemimpin yang pro-Zionis. Sebaliknya, hadis-hadis yang ada lebih banyak melarang pemberontakan terhadap pemerintah, bahkan yang zalim sekalipun. Ini berbeda dengan mazhab lain yang memiliki banyak hadis tentang jihad dan keadilan, di mana jihad menjadi salah satu rukun keislaman mereka, dan hal ini dianggap berbahaya bagi kekuasaan.
Ia juga menyoroti Iran, Hizbullah, dan kelompok perlawanan lainnya yang aktif melawan Zionis karena memiliki ideologi kuat yang mengacu pada kitab seperti "Nahjul Balaghah", yang berisi khutbah dan surat-surat Imam Ali bin Abi Thalib tentang peringatan bagi para pemimpin agar tidak zalim. Ajaran ini dianggap berbahaya oleh elit kapitalisme global dan negara-negara aristokrat Arab yang takut kekuasaan mereka runtuh.
Muniruddin berpendapat bahwa negara-negara Arab lebih memilih mengembangkan ajaran Islam yang berfokus pada ibadah ritual seperti sholat dan menghafal Quran, serta cara mengkafirkan atau membid'ahkan kelompok lain. Model keislaman ini didukung Barat, yang bertujuan agar rakyat tidak kritis terhadap pemimpin yang korup. Penulis menyindir bahwa alih-alih kritis, sebagian pihak justru mulai mengembangkan ideologi "menjilat" demi mendapatkan posisi atau jabatan. Ia menutup dengan pertanyaan reflektif: "Jika kemiskinan rakyat masih tinggi, sementara gaya hidup mewah, kecongkakan dan perilaku koruptif mereka tidak sembuh-sembuh? Haruskah rakyat "me-Nepal-kan" mereka semua?" sambil mengakhiri tulisan dengan dukungan pada Prabowo untuk memperbaiki Indonesia.