opini

Mengapa Amuk Massa?

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 12:10 WIB
54 orang yang diduga sebagai provokator saat demo di Semarang, Jumat, 29 Agustus 2025 diamankan polisi. (Foto dokumentasi humas Polda Jateng).


Oleh: Agung Wibawanto

Yang disebut dengan amuk massa adalah sebuah kemarahan komunal atau banyak orang. Dalam ilmu psikologi massa, moment ini memang memiliki ciri atau tipikal tersendiri hingga bisa dibedakan dengan marah individu. Meski secara substansi sama-sama mengalami rasa emosi yang memuncak.

Pada kebanyakan marah individu, sedikit banyak comonsense nya masih ada, kecuali memang sudah di luar kesadarannya, misal mabuk. Seseorang meski marah kadang masih bisa mempertimbangkan banyak hal. Ini bisa dijelaskan dan dapat diterima akal karena ia akan bertanggungjawab sendiri.

Segala resiko juga biasanya akan dipikirkan, meski resiko terburuk pun bisa menjadi pilihan. Selain itu, efeknya tidak terlalu besar bagi orang lain di sekitar. Sebanyak-banyaknya orang yang terdampak masih dalam hitungan jari. Untuk itu, yang disebut pendekatan persuasif memang lebih tepat dilakukan pada orang yang marah secara individu.

Berbanding terbalik dengan amuk massa. Ini sebuah kondisi di mana berkumpulnya orang banyak dengan berbagai latar belakang status sosial, pendidikan, karakter, hingga kepentingan menjadi satu. Mereka biasanya bergerak karena diikat oleh satu isu bersama. Begitupun, terkadang amuk massa bisa dilakukan sekadar melampiaskan marah.

Marah dan kemarahan massa akan terjadi apabila saluran bagi mereka menyampaikan perasaan itu tidak ada, apalagi malah sengaja disumbat, dibungkam. Rasa sakit yang mereka pendam dari mulai sedikit hingga menumpuk pada akhirnya meledak. Amuk masa mencirikan, tidak ada kepercayaan, tidak ada yang dipatuhi, tidak ada yang diikuti, tidak ada yang ditakuti.

Tujuan dari amuk massa selain melampiaskan emosi yang sudah memuncak tidak bisa ditahan dikendalikan, juga biasanya untuk memberi pesan sekaligus juga sebenarnya mencari perhatian agar pihak yang ditumpahkan kemarahan tersebut mau mendengar mau memperhatikan hingga akhirnya mau menuruti apa yang dikehendaki.

Massa yang selama ini hidup susah atau tepatnya dibuat susah, masih saja ditindas, disakiti hati dan perasaan. Mereka menganggap tidak ada keadilan buat mereka, karena jika dibandingkan dengan kelompok orang lainnya diberi kehidupan serba mewah dan menjadi warga negara kelas satu. Sementara massa selama ini hanya diperas dianggap pelayan.

Ini penyebab timbulkan kecemburuan sosial karena gap antara massa yang miskin dengan para elite jauh bak bumi dan langit. Jadi, substansi persoalannya jauh lebih kompleks, mulai dari kurangnya ruang dialog, tersumbatnya aspirasi, rasa ketidakadilan, hingga gap ekonomi yang demikian besar. Karena faktor tersebut mereka bersatu.

Dapat dibayangkan bagaimana massa yang sudah hopeless dan penuh amarah berkumpul dan bergerak. Apapun bisa mereka lakukan dan kadang tidak terkait dengan tujuan unjuk kemarahan mereka. Perkara ada pihak "penyusup" yang memanfaatkan amuk massa itu hal yang lain lagi dan hal tersebut sangat mungkin terjadi.

Yang sedang kita bahas adalah siapa dan bagaimana itu "amuk massa". Lalu, bagaimana mengatasi ataupun mengeliminir kerusakan yang berpotensi ditimbulkan oleh amuk massa? Jika dikatakan mengatasi, memang bisa dikatakan sudah sangat terlambat. Dengan memahami ciri yang tersebut di atas (tidak patuh dan tidak takut), mereka akan lakukan apapun.

Anarkis? Iya itu hanya salah satu bentuk kemarahan yang mereka lakukan. Jadi tidak perlu kaget ataupun merasa aneh dengan mengatakan kok anarkis kok rusuh? Itu tipikal massa jika marah. Namun yang jika kita perhatikan amuk massa 2025 ini berbeda dengan 1998. Jika ingin menyebut "aneh" lihatlah kerusuhan Mei 1998. Bukan aksi pendudukan gedung DPR tapi pembunuhan dan pemerkosaan.

Perilaku ini jauh dari tipikal amuk massa yang organik. Mereka biasanya bisa membedakan mana elite dan mana rakyat biasa seperti mereka. Apalagi melakukan kejahatan seperti pembunuhan dan perkosaan dengan cara sadis (baca: Hasil investigasi Komnas HAM, 1998). Amuk massa 2025 lebih diarahkan kepada pihak-pihak yang dianggap telah menciderai rasa keadilan.

Pihak tersebut adalah pejabat istana (termasuk presiden dan wakilnya), anggota DPR/DPRD, dan Polisi. Jika melihat bagaimana marahnya massa kepada aparat kepolisian seharusnya menjadi introspeksi mengapa semarah itu? Massa sepertinya sudah muak dan ini menjadi sarana balas dendam. Karena selama ini mereka dipaksa patuh oleh aparat polisi dengan semena-mena.

Sekali lagi, sulit mengatasi amuk massa. Yang bisa dilakukan hanya mengeliminir agar massa tidak bertambah ngamuk. Yaitu dengan mengakomodir kehendak massa. Massa meskipun mengamuk namun masih memiliki kesadaran kolektif. Jangan ada perkataan yang sifatnya provokatif, misal menyalahkan apalagi menghujat massa. Buka ruang dialog tanpa ada arogansi.

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB