1. Syahwat Kekuasaan dan Pengaruh. Seseorang yang ingin mempertahankan kekuasaan, posisi, atau pengaruh sering menciptakan kekacauan agar ia tampil sebagai penengah, pahlawan semu.
2. Ketakutan Akan Kesatuan
Orang-orang yang gemar mengadu domba sering merasa terancam jika dua pihak bersatu. Maka, dipecah belahlah mereka agar tak menjadi kekuatan yang membahayakan kepentingannya.
3. Kepuasan Psikologis dari Kekacauan. Ada kenikmatan gelap yang terasa ketika kita merasa lebih “tinggi” karena orang lain jatuh akibat konflik yang kita rekayasa.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:
“مِن أَعظَمِ الفَسَادِ: تَحريضُ الناسِ على بَعضِهم بِاسْمِ النَّصيحَةِ أو الخَوفِ عليهم، وهُوَ مَكرٌ مُقنَّعٌ بالطّاعةِ."
“Termasuk kerusakan terbesar adalah mendorong manusia untuk saling membenci dengan kedok nasihat atau karena merasa khawatir atas mereka. Ini adalah tipu daya yang disamarkan dengan ketaatan.”(Al-Fawāid, Ibnu Qayyim)
Ciri-Ciri Orang yang Menjadi Pengadu Domba dan Penikmat Kekacauan
1. Bersikap Netral Palsu
Di depan semua pihak ia tampak sebagai penengah, tapi di belakang justru menyulut api.
2. Senang Menyampaikan Informasi Setengah-setengah
Ia menyebarkan potongan informasi yang bias untuk menciptakan kesalahpahaman.
3. Mengaku Tak Terlibat, Tapi Tahu Segalanya
Ia akan berkata, “Saya hanya menyampaikan,” padahal ia yang memulai semuanya.
4. Menghindari Solusi, Menyuburkan Konflik
Saat ada upaya damai, ia akan memunculkan kembali masalah lama, agar konflik tidak selesai.
5. Mengambil Manfaat dari Kekacauan
Saat dua pihak bertengkar, ia naik jabatan, dipuji, atau mendapatkan akses yang selama ini tidak dimiliki.
*Solusi dalam Islam: Merajut Ukhuwah, Menjaga Lisan, dan Menjadi Jembatan*
1. Jangan Jadi Tukang Adu Domba (Namimah)
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ»
Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (namimah).”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, siapa yang merancang konflik dan mengambil keuntungan darinya, telah menutup pintu surga untuk dirinya sendiri.
2. Jaga Lisan dan Informasi
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Diam yang menjaga ukhuwah lebih mulia daripada bicara yang menyulut bara.