"Raja Juli Antoni, Mas Kaesang, saat itu, kalau cerita ke saya hampir setengah menangis, 'enggak bisa dihubungi, Bang, sudah di-WA sudah dibaca tapi enggak dibalas-balas' ya kira-kira itu yang terjadi dalam perjalanan kita sampai hari ini," jelasnya.
Jadi, di mana modern nya PSI di mana demokratisnya jika semuanya sudah diatur oleh seseorang dan semua perjuangan yang sudah dilakukan hanya sandiwara saja. Dengan "menggondel" nama Jokowi, fakta PSI memiliki banyak kader yang kini duduk di pemerintahan dengan segala jabatannya. Itulah tujuan mereka.
Jadi, jika ada yang begitu bangga dengan PSI seolah sebagai partai terhebat, tentu publik hanya tertawa. PSI tidak lebih sebagai partai yang pragmatis dan oportunis. Ini yang membedakan dengan PRD (meski cara-cara seperti itu bisa saja dilakukan PRD tapi tidak).
PSI seolah membodohi publik dengan mengatakan sebagai partai terbuka dan modern tapi begitu tunduk dan manut kepada Jokowi. Dalam bahasa lain ingin dikatakan bahwa tanpa Jokowi ataupun keturunannya maka PSI akan mati, "Jika Jokowi tidak suka dengan logonya maka kita bisa ganti, simpel saja," tambah Jeffrie.