*Pujian dalam Keseimbangan: Panduan dari Ulama*
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa pujian terhadap orang lain bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk mengapresiasi nikmat Allah SWT. atas hamba-Nya.
Tapi bisa juga menjadi racun jika diniatkan untuk menjilat atau menjatuhkan. Beliau berkata:
“المدح بالباطل هو السم القاتل، لأنه يبعث في القلب العجب ويدعو إلى الكبر ويمنع من قبول النصيحة"
"Pujian yang tidak benar adalah racun yang mematikan, karena ia membangkitkan ujub dalam hati, menyeret pada kesombongan, dan menghalangi dari menerima nasihat."
*Kesadaran Jiwa: Memuji dengan Hikmah, Menerima dengan Rendah Hati*
Bagi yang memuji, jadilah pribadi yang adil dan tulus. Gunakan kata-kata indah bukan untuk memanipulasi, tetapi untuk menyemai semangat dan cinta kasih.
Bagi yang menerima pujian, jadikan ia cermin yang mengingatkan: bahwa semua kebaikan adalah titipan, bukan milik.
Jangan terlena oleh decak kagum, sebab yang dipuji hari ini, bisa dihina esok hari. Rasulullah SAW. bersabda:
“إذا أثنيتم على أحد فقولوا: نحسبه كذا ولا نزكي على الله أحدًا"
"Jika kalian memuji seseorang, katakanlah: 'Kami menganggapnya demikian, namun kami tidak menyanjung seseorang di hadapan Allah.'"
(HR. Bukhari dan Muslim)
Sehingga dengan demikian, maka Pujian itu ibarat embun, menyegarkan, tetapi bisa membasahi sayap jika terlalu sering hinggap.
Ia adalah cahaya yang bisa menerangi jalan, namun juga bisa membutakan mata yang tak siap.
Jangan cari pujian, biarkan ia datang sendiri, karena ketulusan tak pernah berteriak namun selalu dikenal.
Jangan pula menolak setiap pujian, karena kadang ia adalah bahasa cinta yang meneguhkan semangat yang hampir padam.
Tapi waspadalah, jangan biarkan dirimu menjadi budak tepuk tangan. Karena kemurnian hati hanya untuk Dia yang Maha Mengetahui isi dada…
وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
"Dan Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada." (QS. Al-Maidah: 7).