Oleh: MJ. Wijaya
“Barangsiapa tak mengenal sejarah, ia akan tersesat dalam masa depan.” Soekarno
Jejak yang Terlindas Kemajuan
"Naratas jalan lawas" bukan sekadar slogan nostalgia atau euforia budaya. Ia adalah upaya sadar untuk menembus kabut modernitas yang sering kali membutakan mata kita dari akar sejarah, makna eksistensial, dan nilai kultural bangsa.
Jalan lawas bukanlah jalan mundur. Ia adalah jalan pulang. Ironisnya, di tengah gegap gempita pembangunan infrastruktur, digitalisasi, dan urbanisasi, bangsa ini makin jauh dari kesadaran historisnya.
Kampung-kampung adat ditinggalkan, bahasa-bahasa ibu dibiarkan mati perlahan, dan jalur-jalur budaya yang pernah menghubungkan antar-ruang peradaban lokal kini tergantikan oleh aspal, algoritma, dan apatisme.
Jalan Lawas sebagai Jalan Makna
Filsafat jalan lawas bukan sekadar romantisme arkeologis. Ia adalah epistemologi tentang kesadaran ruang dan waktu. Dalam perspektif Heideggerian, manusia adalah Dasein—ia berada di dunia bukan sebagai entitas tunggal, tapi sebagai eksistensi yang dipengaruhi oleh sejarah, ruang, dan warisan makna. Jalan lawas bukan sekadar jejak kaki; ia adalah jejak makna.
Dalam tradisi Sunda misalnya, istilah "naratas" memiliki dimensi spiritual dan kosmologis. Ia bukan hanya membelah semak atau menembus hutan, tetapi juga membuka jalan batin, menghidupkan kembali yang terlupakan, dan mengaitkan masa kini dengan akar leluhur.
Itulah mengapa jalan lawas tidak bisa dipisahkan dari narasi leluhur, jejak wali, jalur perdagangan kuno, hingga lorong-lorong sunyi tempat suluk dan tapa dilakukan.
Dari Jalan Sunyi ke Jalan Mati
Apa yang kita saksikan hari ini adalah dekonstruksi brutal terhadap jalan lawas itu. Dalam teori poskolonial, apa yang disebut "kemajuan" sering kali dibangun di atas pembunuhan simbolik terhadap masa lalu.
Jalan-jalan tua yang dahulu menjadi urat nadi interaksi manusia dan nilai, kini dilupakan. Situs purbakala digusur demi real estate. Jalan kereta tua ditinggalkan, jalur haji kuno tak dikenang, dan lorong sunyi tempat para pujangga menyepi kini jadi tempat pembuangan sampah.
Indonesia sedang mengalami "amnesia kultural" sebuah kondisi patologis di mana bangsa tidak lagi tahu dari mana ia berasal, untuk apa ia bergerak, dan ke mana ia akan menuju. Tanpa jalan lawas, pembangunan menjadi kehilangan arah, kebijakan menjadi kehilangan makna, dan manusia menjadi hampa.