Oleh: Zidan Fathur Rahman
Sudah setahun lebih BEM UNPI dibekukan, kampus yang biasanya ramai dengan dinamika organisasi, tiba-tiba terasa datar, bukan karena tak ada masalah, tapi karena tak banyak yang merasa perlu mengurusinya.
Pernah pada Pilpresma 2024 lalu, mahasiswa tidak memilih siapa-siapa, kotak kosong menang, dan itu bukan karena kotak kosong kampanye lebih baik, tapi karena hanya ada calon tunggal, yang kemudian tidak berhasil membangun kepercayaan cukup untuk dipilih.
Itu bukan cuma tanda bahwa organisasi kita sedang lesu, tapi juga jadi sinyal bahwa kesadaran kolektif kita sedang beku, kita yang dulu bangga disebut aktivis, sekarang malah sibuk jadi penonton. Kalau dulu BEM dan organisasi jadi panggung gagasan, sekarang kita lebih akrab dengan diam dan pasrah.
BEM UNPI akhirnya dibekukan, agenda-agenda mahasiswa jalan di tempat, banyak forum diskusi mandek, bahkan ketika ada, kadang hanya formalitas belaka. Tak sedikit yang menganggap semua ini biasa saja, padahal kampus tanpa organisasi mahasiswa itu seperti tubuh tanpa nadi, bisa hidup, tapi hanya sebatas gerak rutin, tidak ada detak, tidak ada tekanan.
Tentu saja ini bukan salah satu dua orang, tapi juga bukan hal yang bisa kita diamkan lalu berharap membaik sendiri. Soal organisasi bukan cuma urusan struktur, tapi juga urusan rasa memiliki. Kita tidak bisa terus bilang tidak ada orangnya, kalau kita sendiri memilih jadi orang yang tidak mau ambil bagian.
Belakangan muncul kabar Pilpresma akan digelar lagi, ini artinya ada kemungkinan BEM UNPI bisa aktif kembali. Beberapa nama mulai disebut-sebut. Artinya, ada harapan. Tapi harapan itu bisa menyala, hanya kalau ada yang mau meniupnya.
Organisasi mahasiswa tidak akan hidup hanya dari proposal atau anggaran, ia hidup karena ada yang menghidupkan, karena ada yang mau capek, mau ribut di forum, mau cari tahu, mau belajar, dan mau terlibat, bukan sekadar bikin konten atau mengkritik, tapi juga siap mengerjakan hal-hal remeh yang justru bikin organisasi bisa jalan.
Kita sering merasa kampus kita datar-datar saja, padahal boleh jadi kita sendirilah yang membiarkannya begitu. BEM bisa saja hidup lagi, tapi pertanyaannya, mahasiswanya mau enggak?
Sebab semangat organisasi tidak pernah tumbuh dari rapat atau program kerja, ia tumbuh dari orang-orang yang mau turun tangan, bukan sekadar angkat bicara. Ia hidup dari bara, ya, bara api yang menyala di dalam dada.
Seperti petuah komandan patjul, yang perlu kamu pahami, di dalam hatimu harus ada bara api yang tak pernah padam, barangkali bara ini yang memancar.
Bara yang dimaksud tentu bukan api kemarahan atau kekecewaan, tapi api kesadaran, tekad, dan kemauan untuk ikut membentuk wajah kampus. Selama api itu padam, organisasi macam apa pun cuma akan jadi formalitas.
Jadi, kalau Pilpresma sudah di depan mata, jangan cuma menunggu siapa yang nyalon, tanyakan juga pada diri sendiri, apakah saya masih punya bara itu, atau jangan-jangan, saya sendiri yang diam-diam lebih nyaman kalau BEM tetap beku.